Pencarian

Hujan di Kalsel Masih Hasil Modifikasi Cuaca, Akademisi ULM Ingatkan Risiko Banjir Usai Karhutla

Sabtu, 31 Oktober 2026 • 09:15:31 WIB
Hujan di Kalsel Masih Hasil Modifikasi Cuaca, Akademisi ULM Ingatkan Risiko Banjir Usai Karhutla
Akademisi ULM, Akbar Rahman, menilai hujan di Kalsel saat ini masih dipengaruhi operasi modifikasi cuaca.

BANJARBARU — Akbar Rahman menyampaikan hal tersebut saat diwawancarai baru-baru ini. Menurutnya, hujan yang turun belum mencerminkan pola musim penghujan yang sesungguhnya.

"Saat ini sebenarnya hujannya ada karena faktor OMC. Jadi, sebenarnya belum secara alamiah ya, yang betul-betul kita mendapatkan hari hujan," ungkap Akbar.

Mengapa Hujan Buatan Bergantung pada Awan?

Akbar menjelaskan, keberhasilan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan pembentuk hujan. Tanpa awan yang memadai, operasi modifikasi cuaca tidak bisa dijalankan.

Karena itu, ia meminta warga tidak sepenuhnya bergantung pada OMC dalam menghadapi persoalan karhutla. Kewaspadaan menjaga lingkungan tetap menjadi kunci utama.

"Kita jangan berharap sepenuhnya terkait dengan OMC. Kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan kita untuk menjaga lingkungan kita agar tidak terjadi kebakaran lagi," tegasnya.

Risiko Banjir Meningkat Setelah Lahan Terbakar

Akbar juga menyoroti potensi genangan dan banjir saat musim penghujan tiba. Berkurangnya vegetasi penyerap air akibat lahan yang terbakar menambah risiko banjir di sejumlah titik.

Ia mendorong mitigasi dilakukan sejak dini, bukan menunggu musim kering dan karhutla berakhir. Langkah ini dinilai penting agar bencana banjir tidak menyusul di kemudian hari.

"Kita berharap ini tidak terjadi dengan cara kewaspadaan kita tinggi melakukan mitigasi. Kalau musim kering sudah selesai, karhutla selesai, kita juga tetap harus waspada memitigasi agar bencana banjir itu tidak terjadi," tuntasnya.

Apa Langkah Warga Menghadapi Peralihan Musim?

Pernyataan Akbar menjadi pengingat bagi warga Kalsel untuk tidak menganggap hujan yang turun sebagai tanda musim penghujan telah tiba sepenuhnya. Pemantauan kondisi lingkungan dan kesiapan menghadapi genangan tetap diperlukan di tingkat kelurahan dan desa.

Operasi modifikasi cuaca sendiri selama ini dijalankan sebagai upaya menekan kejadian karhutla di wilayah yang curah hujannya belum stabil. Ketergantungan pada teknologi ini menuntut kesiapan mitigasi konvensional tetap berjalan beriringan.

Follow kabarkapuas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pojokbanua.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks