BANJARBARU — Pembasahan gambut dipilih karena lahan kering jadi pemicu utama kebakaran berulang. Hanif menyebut kawasan yang dibasahi berada tepat di lokasi apel digelar.
“Jadi di tempat kita berdiri hari ini, ini kita akan rendam. Jadi kita telah bekerja sama dengan BWS (Balai Wilayah Sungai) untuk menaikkan air Sungai Martapura untuk merendam kembali,” ujarnya.
Kerja sama dengan Balai Wilayah Sungai jadi kunci karena pasokan air harus cukup menahan kelembapan lahan selama musim kemarau.
Pola Gunung Damar dan Liang Anggang Jadi Acuan
Pendekatan yang dipakai mengacu pada penanganan kawasan Gunung Damar dan Liang Anggang. Dua lokasi itu dinilai berhasil menjaga kelembapan tanah lewat pasokan air yang stabil.
Dari 10.000 hektare sasaran terpadu, sekitar 1.650 hektare di antaranya berkarakter gambut. Sisanya lahan dengan kondisi berbeda yang butuh perlakuan tersendiri.
15 Mobil Tangki Korem 101/Antasari, 30 Unit dari Swasta
Penanganan lapangan melibatkan personel TNI, Polri, dan unit usaha yang beroperasi di Kalsel. Korem 101/Antasari menyiapkan 15 unit mobil tangki air, sementara pihak swasta menambah sekitar 30 unit.
Sebanyak 350 dunia usaha diminta berkontribusi langsung, baik lewat personel maupun peralatan. Pengerahan lintas sektor ini untuk memperkuat kemampuan penanganan di lapangan.
Lahan Bekas Panen Dibalik dalam Sepekan
Selain gambut, pemerintah menangani lahan persawahan bekas panen atau gagal panen. Sisa tanaman yang berpotensi jadi bahan bakar kebakaran akan dibalik memakai peralatan pertanian.
Target penyelesaian pekerjaan itu satu minggu. Seluruh langkah diharapkan berjalan terkoordinasi dalam sepekan ke depan, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi lapangan.
Pola penanganan terpadu di Kalsel diharapkan jadi referensi bagi daerah lain yang rawan Karhutla, terutama Kalimantan Tengah dan Sumatra.