KALIMANTAN SELATAN — Freddy Adu mengaku masih tidak tahu mengapa kepindahannya ke Manchester United tak pernah terjadi. Gelandang asal Amerika Serikat itu menyesali keputusan memilih Benfica pada 2007, yang dinilainya justru menghambat perkembangan kariernya.
Sudah 17 tahun berlalu sejak masa trial di Old Trafford pada November 2006, namun Adu tetap menyimpan pertanyaan yang sama. Saat itu ia baru berusia 17 tahun dan sudah menjadi pemain reguler DC United di MLS, dengan sejumlah klub Eropa memburunya.
Benfica Jadi Pilihan, Portugal Bukan Impian Sesungguhnya
Manchester United tak kunjung mengajukan tawaran resmi. Adu sempat singgah sebentar di Real Salt Lake sebelum akhirnya bergabung dengan Benfica dengan nilai transfer sekitar 2 juta dolar AS.
Keputusan itu lahir dari diskusi dengan agen dan penasihatnya, bukan dari keinginannya sendiri. Adu mengaku lebih menginginkan Liga Inggris, Spanyol, Italia, atau Jerman.
"Jujur, saya tidak tahu kenapa [kepindahan ke Manchester United] itu tidak terjadi. Saya masih muda dan agen saya membawa semua tawaran ini," kata Adu kepada FourFourTwo.
"Benfica tampak seperti lompatan terbaik bagi saya saat itu, tempat di mana saya punya peluang terbaik untuk bermain dan berkembang. Ternyata tidak seperti itu."
Liga Portugal Tak Dikenal di Amerika Serikat
Adu menjelaskan bahwa publik sepak bola Amerika Serikat pada masa itu hanya akrab dengan kompetisi di Inggris, Spanyol, Italia, dan Jerman. Liga Portugal nyaris tidak masuk radar.
"Bagi saya pribadi, Portugal adalah liga yang bagus, tapi saat itu di Amerika kami tidak tahu banyak tentang liga Portugal," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa semua orang di sekelilingnya, termasuk agen dan para penasihat, meyakini Benfica adalah titik pijakan yang tepat menuju klub besar Eropa.
Tiga Pelatih dalam Satu Musim Bikin Karier Melenceng
Kekecewaan Adu memuncak pada musim pertamanya di Eropa. Benfica berganti pelatih tiga kali dalam satu tahun, dan setiap pelatih membawa agenda serta pemain pilihannya sendiri.
"Yang membuat saya kecewa di Benfica adalah melewati tiga pelatih berbeda di tahun pertama saya, dan semuanya naik-turun," kata Adu.
Menurutnya, situasi itu membuatnya tidak pernah mendapat kesempatan tampil konsisten. Ia menyebut musim perdananya di Eropa langsung terasa tidak stabil, dan segalanya mulai berjalan menyimpang setelah itu.
Selepas Benfica, Adu tercatat memperkuat lebih dari selusin klub di berbagai negara. Ia sempat diprediksi menjadi bintang besar sepak bola Amerika Serikat, namun janji itu tak pernah terwujud sepenuhnya.
Mimpi ke Klub Besar Tetap Tersimpan
Adu tidak menyembunyikan bahwa bermain untuk salah satu klub raksasa dunia selalu ada di benaknya. Namun ia juga mengakui, begitu tiba di Lisbon, ia baru menyadari besarnya Benfica dan atmosfer stadionnya.
Pengakuan Adu ini menjadi catatan tersendiri soal betapa rapuhnya pengambilan keputusan di usia muda. Bakat besar tidak selalu cukup ketika arah karier ditentukan oleh orang lain, dan lingkungan yang tidak stabil bisa mempercepat laju penurunan seorang pemain.