KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan keterbukaan informasi BEI yang dikutip Senin (24/8), konversi tersebut dilakukan pada harga Rp 200 per saham, jauh di atas harga pasar BTEL yang terkunci di level Rp 50 sejak 2019. Alhasil, total saham tercatat BTEL melonjak dari 38,33 miliar menjadi 44,64 miliar saham.
Enam Entitas Djarum Masuk, Protelindo Pegang Porsi Terbesar
PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) menjadi pemegang saham baru terbesar dengan mengantongi 4,84 miliar saham atau setara 10,86%. Selain Protelindo, lima entitas lain turut mengeksekusi konversi OWK pada periode yang sama:
- PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) — 888,12 juta saham
- PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) — 250,80 juta saham
- PT Reka Jasa Akses — 247,49 juta saham
- PT Komet Infra Nusantara — 47,35 juta saham
- PT Sarana Inti Persada — 35,50 juta saham
Masuknya deretan emiten dan perusahaan menara telekomunikasi milik Grup Djarum ini menegaskan posisi mereka sebagai kreditur strategis yang memanfaatkan instrumen OWK untuk mengkonversi piutang menjadi kepemilikan saham.
Ancaman Delisting dan Upaya Perbaikan Kinerja
Ekspansi Grup Djarum ini terjadi di tengah kondisi kritis BTEL. Bursa Efek Indonesia telah menghentikan sementara perdagangan saham BTEL sejak 27 Mei 2019 atau lebih dari tujuh tahun. Suspensi berkepanjangan itu dipicu opini audit Disclaimer of Opinion (Tidak Menyatakan Pendapat) untuk laporan keuangan tahun buku 2017 dan 2018.
Otoritas bursa kini tengah mengkaji potensi delisting terhadap emiten telekomunikasi tersebut. Menanggapi hal ini, Corporate Secretary Bakrie Telecom, Purwoko Suatmadji, menyatakan perseroan terus berupaya memperbaiki kinerja keuangan.
"Laporan keuangan BTEL sejak periode 30 September 2020 hingga tahun buku Desember 2024 seluruhnya telah memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari auditor," ujarnya dalam keterangan resmi.
Perbaikan opini audit tersebut menjadi sinyal positif bagi upaya perseroan keluar dari tekanan bursa, meski belum ada kepastian kapan perdagangan saham akan dibuka kembali.
Apa Arti Langkah Ini bagi Pemegang Saham?
Konversi OWK ini secara fundamental mengubah struktur permodalan BTEL. Dengan tambahan 6,31 miliar saham baru, kepemilikan pemegang saham lama otomatis terdilusi. Namun, kehadiran Grup Djarum yang memiliki rekam jejak kuat di industri menara telekomunikasi melalui Protelindo dan SUPR bisa menjadi angin segar bagi prospek jangka panjang perseroan.
Investor tetap perlu mencermati risiko likuiditas saham yang masih nol akibat suspensi panjang. Status delisting yang masih menggantung juga membuat prospek investasi di BTEL belum bisa dipastikan hingga ada keputusan final dari BEI.