Ustadz H Luthfi Syarkawi Thayib kembali mengupas persoalan ikhlas dalam kajian rutin "Kalam Hikmah" di Masjid Assa'adah, Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Sabtu (pekan ini). Dalam tausyiah seusai Shalat Subuh itu, ia memaparkan tiga tingkatan ikhlas yang menjadi tolok ukur kualitas amal ibadah seorang muslim.
BANJARMASIN — Materi kajian pekan lalu yang membahas ikhlas sebagai rohnya amal ibadah ternyata berlanjut pada sesi kali ini. Ustadz muda lulusan Pondok Pesantren Darussalam Martapura itu menjelaskan, pemahaman ikhlas tidak bisa disamaratakan karena setiap orang berada pada maqam atau tingkatan yang berbeda.
“Ikhlas itu penting, terutama dalam melakukan amal ibadah. Karena dari ikhlas itulah mendapatkan ridha Allah SWT,” katanya di hadapan jamaah Masjid Assa'adah.
Tiga Maqam Ikhlas: dari Awam hingga Khawasul Khawas
Ustadz Luthfi merinci, tingkatan pertama adalah ikhlasnya orang awam, yakni mereka yang dalam beramal masih mengharapkan imbalan duniawi. Tingkatan kedua, ikhlasnya golongan khawas yang hanya mengharapkan balasan surga.
Adapun tingkatan tertinggi adalah ikhlasnya khawasul khawas, yaitu golongan yang sangat istimewa. “Kalau ikhlasnya orang awam beramal ibadah masih mengharapkan imbalan duniawi. Ikhlas orang khawas hanya mengharapkan balasan surga. Sedangkan ikhlasnya orang khawasul khawas tidak mengharapkan apa-apa, kecuali ridha Allah semata,” ujarnya.
Penjelasan ini merujuk pada kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah Askandari, seorang ahli tasawuf asal Mesir yang hidup sekitar abad XII. Kajian tersebut menjadi agenda rutin yang digelar setiap pekan di masjid yang terletak di Komplek Beruntung Jaya tersebut.
Hadits Tujuh Golongan yang Dilindungi di Padang Mahsyar
Pada kesempatan yang sama, Ustadz Luthfi juga menyampaikan Hadits Rasulullah SAW tentang tujuh golongan yang mendapat perlindungan ketika di Padang Mahsyar. Padang Mahsyar digambarkan sebagai tempat berkumpulnya manusia pada hari kiamat untuk mencari perlindungan.
“Pengertian mencintai masjid yaitu selalu ingin melakukan ibadah di masjid seperti shalat berjamaah serta menjaga kebersihan dan kebagusan masjid,” demikian Ustadz Luthfi Syarkawi Thayib.
Ia menyebutkan, di antara tujuh golongan tersebut adalah pemimpin yang adil, pemuda yang hatinya tertaut pada masjid, serta muslimin dan muslimah yang juga mencintai masjid. Pesan ini menjadi pengingat bagi jamaah untuk tidak hanya memperbaiki kualitas ibadah personal, tetapi juga menjaga hubungan sosial dan kelembagaan, termasuk dalam hal kepemimpinan yang amanah.
Kajian Subuh yang berlangsung khidmat ini dihadiri puluhan jamaah tetap Masjid Assa'adah. Materi mengenai ikhlas dan perlindungan di hari akhir diharapkan mampu menguatkan fondasi spiritual warga Banjarmasin dalam menjalani aktivitas sehari-hari.