Pencarian

Kebiasaan Orang Tua yang Pengaruhi Nilai Sekolah Anak

Jumat, 16 Oktober 2026 • 14:20:31 WIB
Kebiasaan Orang Tua yang Pengaruhi Nilai Sekolah Anak
Orang tua mendampingi anak belajar di rumah sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan.

KALIMANTAN SELATAN — Survei PISA terbaru melibatkan lebih dari 760 ribu remaja berusia 15 tahun di puluhan negara dan menemukan skor matematika, membaca, serta sains berada di titik terendah sepanjang sejarah. Ternyata kebiasaan sederhana orang tua di rumah ikut menentukan naik-turunnya nilai anak di sekolah. Simak empat kebiasaan yang perlu ibu dan ayah perhatikan mulai sekarang.

Organisasi for Economic Cooperation and Development (OECD) mencatat penurunan dukungan keluarga terhadap pendidikan anak terjadi di hampir setiap negara berpenghasilan tinggi. Penurunan paling terasa pada anak laki-laki, diukur dari seberapa sering orang tua berbicara soal pekerjaan sekolah atau menunjukkan minat pada pembelajaran anak.

Mengapa Minat Orang Tua pada Sekolah Anak Menurun

Direktur pendidikan dan keterampilan OECD, Andreas Schleicher, menyebut pergeseran peran orang tua sebagai penyebab utama. "Orang tua lebih memandang diri mereka sebagai klien sekolah, bukan sebagai seseorang yang memiliki minat pribadi," kata Schleicher, dilansir dari AP News.

Pandangan ini membuat banyak ibu dan ayah menyerahkan sepenuhnya urusan akademik ke pihak sekolah. Padahal keterlibatan orang tua di rumah tetap jadi fondasi penting bagi anak usia sekolah.

1. Menanyakan Kegiatan Sekolah Setiap Minggu

Anak yang mengaku anggota keluarganya menanyakan kegiatan sekolah minimal sekali seminggu memperoleh skor sekitar 35 poin lebih tinggi pada tes sains. Angka ini jauh di atas siswa yang keluarganya jarang menunjukkan minat pada pendidikan.

Pertanyaannya tidak perlu rumit. Cukup tanyakan pelajaran apa yang paling seru hari itu, atau PR apa yang sedang dikerjakan. Percakapan singkat seperti ini membuat anak merasa sekolahnya diperhatikan.

2. Mengatur Waktu Main Gadget Anak

Lebih dari seperempat siswa di negara berpenghasilan tinggi mengeluh teman sekelasnya terganggu perangkat digital di hampir setiap kelas sains. Schleicher menegaskan ada hubungan kuat antara penggunaan gadget untuk hiburan dan nilai ujian yang lebih rendah.

Namun teknologi tetap bermanfaat jika dipakai untuk belajar. Laporan di beberapa negara menunjukkan penggunaan perangkat digital dua sampai tiga jam per hari di sekolah justru menghasilkan nilai lebih tinggi. Nilai itu mulai menurun begitu pemakaian melewati batas tersebut.

3. Menetapkan Harapan yang Realistis

Penelitian yang diterbitkan American Psychological Association menemukan aspirasi orang tua yang tinggi bisa meningkatkan prestasi akademik. Syaratnya, aspirasi itu tidak melebihi harapan yang realistis.

Ketika target orang tua melampaui kemampuan anak, prestasi justru menurun secara proporsional. "Aspirasi orang tua yang berlebihan dapat menjadi racun," ujar penulis utama studi, Kou Murayama, PhD, dari University of Reading.

Murayama menambahkan, harapan yang terlalu tinggi dan tidak realistis bisa menghambat prestasi akademik. Menaikkan harapan saja bukan solusi efektif untuk meningkatkan keberhasilan pendidikan anak.

4. Menjadi Pendukung, Bukan Pemberi Target

Fokus program pendidikan sebaiknya bukan mendorong aspirasi orang tua setinggi mungkin. Yang lebih dibutuhkan adalah informasi agar ibu dan ayah bisa menyusun harapan yang sesuai kemampuan anak.

Dukungan penuh berupa kehadiran, telinga yang siap mendengar, dan minat tulus pada proses belajar terbukti lebih membantu dibanding deretan target angka. Anak yang merasa didukung biasanya lebih berani mencoba dan tidak takut salah.

Kapan Perlu Konsultasi ke Sekolah atau Psikolog

Bila nilai anak turun drastis dalam beberapa bulan, ibu dan ayah sebaiknya berdiskusi dengan wali kelas untuk mencari tahu penyebabnya. Jika anak menunjukkan tanda stres berlebihan, kehilangan minat belajar, atau sulit tidur karena tekanan akademik, konsultasi dengan psikolog anak bisa menjadi langkah tepat.

Empat kebiasaan di atas menunjukkan nilai sekolah anak tidak hanya ditentukan jam belajar di kelas. Perhatian kecil yang konsisten di rumah, dari bertanya soal sekolah sampai menahan diri memberi target berlebihan, punya dampak nyata pada prestasi anak.

Follow kabarkapuas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks