BANJARBARU — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Selatan (BPBD Kalsel) akan menerima tambahan dua unit helikopter dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperkuat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Satu unit yang sudah dipastikan datang dari Provinsi Riau dijadwalkan tiba di Kalsel pada Minggu (23/8), sementara satu unit lainnya masih menunggu kepastian dari Nusa Tenggara Timur.
BANJARBARU — BPBD Kalsel akan segera menambah kekuatan armada udaranya untuk menghadapi karhutla. Satu helikopter dari Riau sudah dikonfirmasi tiba akhir pekan ini, menambah armada yang sebelumnya sudah beroperasi di langit Kalimantan Selatan.
“Yang sudah dipastikan satu unit dari Provinsi Riau dijadwalkan tiba di Kalsel pada Minggu (23/8),” kata Kasubbid Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kalsel Ariansyah seusai rapat evaluasi Satgas Udara Penanganan Karhutla Kalsel di Banjarbaru, Sabtu.
Ia menjelaskan, satu helikopter tambahan lainnya yang berasal dari Nusa Tenggara Timur juga masuk dalam permintaan dukungan lanjutan. Namun, waktu kedatangannya belum bisa dipastikan karena masih menunggu konfirmasi dari pusat.
Total Tujuh Armada Siap Dikerahkan
Dengan tambahan dua unit tersebut, total armada satgas udara yang disiagakan untuk penanggulangan karhutla di Kalsel menjadi tujuh unit. Sebelumnya, lima armada sudah beroperasi untuk mendukung penanganan bencana asap di provinsi ini.
Lima armada yang sudah berjalan itu terdiri atas tiga helikopter pengebom air, satu helikopter patroli, dan satu pesawat patroli. Masing-masing memiliki spesifikasi dan fungsi yang berbeda sesuai kebutuhan operasi di lapangan.
Spesifikasi Armada: Kapasitas Air hingga 4.000 Liter
Untuk tugas pemadaman dari udara, BPBD Kalsel mengerahkan tiga jenis helikopter dengan kemampuan angkut air yang besar. Helikopter MI-8AMT/RA-22834 misalnya, mampu membawa 4.000 liter air dalam sekali terjang dengan kecepatan jelajah 140 knot dan daya jelajah hingga lima jam.
Helikopter UH-60L/N711BF yang dioperasikan PT SMD juga punya kapasitas angkut air 4.000 liter. Armada ini diklaim mampu terbang hingga ketinggian maksimum 18.000 kaki dengan konsumsi bahan bakar 550 liter per jam.
Selain itu, helikopter AS332C1 Superpuma/PK-DAN menjadi andalan lain untuk pengeboman air. Dengan kapasitas angkut air yang sama, armada ini memiliki endurance 4,5 jam dan kecepatan jelajah 90 knot.
Patroli Udara untuk Deteksi Dini Titik Api
Di samping armada pemadam, satgas udara juga diperkuat dengan helikopter Bell 206 Jet Ranger/PK-IWF yang dikhususkan untuk patroli. Helikopter ini mampu mengangkut 600 kilogram muatan internal dengan endurance enam jam, menjadikannya efektif untuk memantau titik api dari ketinggian.
Pesawat C208B-EX juga dioperasikan untuk keperluan patroli dengan kecepatan jelajah 150 knot dan endurance enam jam. Kehadiran armada patroli ini penting untuk mendeteksi dini munculnya titik api baru di wilayah rawan karhutla.
Ariansyah menyebutkan, penambahan helikopter ini memperkuat dua fungsi utama satgas udara, yakni pemadaman dari udara menggunakan armada berkapasitas angkut air besar serta patroli untuk memantau kondisi dan perkembangan kebakaran di Kalimantan Selatan.