KALIMANTAN SELATAN — Manajemen DSLNG membutuhkan kepastian pasar untuk menjaga operasional kilang tetap berjalan setelah kontrak dengan pembeli luar negeri rampung. Sugianto Darsani, Plant Deputy General Manager DSLNG, menegaskan pengalaman memasok gas ke dalam negeri membuktikan perusahaan siap memenuhi kebutuhan domestik. Namun, skema pembelian yang ideal menurut dia adalah kontrak jangka panjang, bukan sekadar transaksi tahunan.
"PGN nanti kalau memang itu (beli LNG) ya harus seperti long term contract," ujar Sugianto saat ditemui di sela perayaan HUT ke-81 Republik Indonesia di DSLNG, Senin (17/8).
Pasokan Domestik Meningkat Tiga Kali Lipat
DSLNG mulai mengirimkan LNG ke PGN pada 2024 dengan volume satu kargo. Jumlah itu melonjak menjadi delapan kargo pada 2025, dan direncanakan kembali naik menjadi 15 kargo pada 2026. Tren peningkatan ini menjadi modal bagi DSLNG untuk meyakinkan pemerintah dan PGN bahwa pasokan domestik bisa diandalkan.
Kebutuhan gas dalam negeri yang terus tumbuh membuat peran DSLNG semakin signifikan. Pemerintah pun telah memperpanjang kontrak pengelolaan Blok Senoro-Toili selama 20 tahun, berlaku efektif mulai 4 Desember 2027 hingga 2047. Dengan demikian, DSLNG dijamin mendapat pasokan gas baku hingga dua dekade ke depan.
Pembeli Eksisting Jadi Prioritas, Peluang Pembeli Baru Terbuka
Saat ini DSLNG memiliki tiga pembeli utama dari luar negeri. JERA mendapatkan jatah 1 juta ton per tahun (MTPA), Kogas sebesar 0,7 MTPA, dan Kyushu Electric Power Co. Inc sebesar 0,3 MTPA. Manajemen tengah berdiskusi dengan ketiga perusahaan asal Jepang dan Korea Selatan tersebut untuk memperpanjang kerja sama.
"Kita kan sedang bekerja ya nyari pasar. Salah satunya existing buyer. Ya bisa existing, bisa nambah, jadi yang penting kan artinya bisa buyernya bisa yang lain juga," ungkap Sugianto.
DSLNG juga membuka peluang bagi pembeli baru, termasuk dari dalam negeri. Targetnya, gambaran kelanjutan kontrak penjualan sudah bisa terlihat pada Desember 2026. Kepastian ini penting agar perusahaan bisa menyusun rencana produksi dan investasi jangka panjang.
Regenerasi Kontrak Menentukan Masa Depan Kilang
Berakhirnya kontrak ekspor pada 2027 bertepatan dengan mulai berlakunya perpanjangan Blok Senoro-Toili. Momen ini menjadi titik krusial bagi DSLNG untuk mengamankan pendapatan. Jika berhasil mengikat PGN dalam kontrak jangka panjang, sebagian produksi LNG dijamin terserap pasar domestik.
Kehadiran pembeli domestik juga sejalan dengan upaya pemerintah mengurangi ketergantungan impor gas. Pasokan dari Luwuk bisa menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan industri dan pembangkit listrik di Tanah Air.
Bagi DSLNG, kontrak domestik bukan sekadar pengganti ekspor, melainkan diversifikasi pasar yang mengurangi risiko ketergantungan pada satu kawasan. Dengan cadangan gas yang terjamin hingga 2047, perusahaan kini punya waktu untuk menyusun strategi penjualan yang lebih matang.