KALIMANTAN SELATAN — Survei 2025 menemukan 62 persen perempuan merasa dinilai atau diperlakukan tidak adil selama masa perinatal. Padahal, selain baby blues dan depresi, ada setidaknya lima kondisi kesehatan mental lain yang bisa dialami ibu setelah melahirkan. Kenali gejalanya agar tidak pulang dari ruang periksa tanpa jawaban.
Psikolog klinis Dr Eanah Whaley menyebut ada dua istilah yang paling sering dipakai saat membicarakan sisi sulit menjadi orang tua baru: baby blues dan depresi pasca persalinan. Dua label itu saja tidak cukup. Kondisi lain di luar keduanya nyata, umum, dan bisa diobati, tetapi banyak ibu tidak pernah tahu bahwa risikonya ada.
Kesenjangan pengetahuan semacam ini berbahaya. Ketika seorang ibu dihantam pikiran mengganggu, panik, marah, atau kilas balik persalinan, ia tidak punya kerangka untuk memahami apa yang terjadi pada dirinya.
1. Kecemasan Pasca Persalinan
Kecemasan setelah melahirkan bukan sekadar rasa khawatir biasa. Ibu bisa diliputi ketakutan berlebihan soal kesehatan bayi, takut melakukan kesalahan, hingga sulit tenang meski bayi sedang tidur nyenyak.
Gejalanya sering tumpang tindih dengan kelelahan wajar ibu baru. Itu sebabnya kondisi ini kerap lolos dari perhatian, baik oleh ibu sendiri maupun tenaga kesehatan.
2. OCD Pasca Melahirkan
Obsessive compulsive disorder (OCD) pasca melahirkan ditandai pikiran intrusif yang berulang, misalnya bayangan menakutkan tentang bayi, lalu diikuti dorongan melakukan ritual tertentu untuk meredam cemas.
Whaley menegaskan OCD bukan variasi dari depresi. "Itu bukan variasi dari depresi. Keduanya adalah pengalaman terpisah yang membutuhkan pemahaman terpisah," ujarnya.
Sayangnya, ibu yang mengalaminya lebih sering menyimpulkan ada yang salah dengan dirinya sebagai pribadi, bukan menduga bahwa ia sedang mengalami OCD pasca melahirkan.
3. PTSD Pasca Persalinan
Persalinan yang traumatis, misalnya tindakan darurat, rasa sakit hebat, atau kurangnya dukungan, bisa memicu post-traumatic stress disorder (PTSD). Ibu dapat mengalami kilas balik ke momen persalinan, mimpi buruk, dan rasa panik saat mengingatnya.
Kondisi ini jarang masuk pembicaraan karena alat skrining dan percakapan tenaga kesehatan umumnya dibangun di sekitar depresi. Akibatnya, gejala PTSD tidak tertangkap.
4. Depresi Pasca Melahirkan
Depresi pasca persalinan lebih dari sekadar sedih berkepanjangan. Ibu bisa kehilangan minat pada hal yang biasa disukai, merasa tidak berharga, sulit tidur meski lelah, hingga menangis tanpa sebab jelas.
Berbeda dengan baby blues yang biasanya mereda dalam dua minggu, depresi pasca persalinan butuh penanganan profesional. Jangan menunggu sampai keadaan memburuk untuk mencari bantuan.
5. Psikosis Pasca Melahirkan
Psikosis pasca melahirkan adalah kondisi paling jarang namun paling serius. Ibu dapat mengalami halusinasi, delusi, kebingungan berat, dan kehilangan kontak dengan realitas.
Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis yang memerlukan bantuan segera. Jika ibu menunjukkan tanda kebingungan atau keyakinan aneh tentang bayi, segera hubungi layanan kesehatan.