KOTABARU — Kepala Dispersip Kotabaru M Fuad Fahruddin menyampaikan pesan Bupati Kotabaru H Muhammad Rusli bahwa penguatan budaya literasi menjadi salah satu perhatian utama pemerintah daerah. Menurut Fuad, literasi perlu diwujudkan melalui keterlibatan berbagai sektor, bukan hanya tanggung jawab sekolah dan perpustakaan.
Lomba Bercerita tingkat SMP berlangsung di Aula Masjid Apung, salah satu ikon wisata Siring Laut. Peserta berasal dari kalangan pelajar yang diarahkan untuk mengasah kemampuan bercerita di depan publik.
Mengapa Literasi Perlu Menjangkau Ruang Publik
Fuad menilai membudayakan literasi tidak cukup dilakukan di lingkungan sekolah dan perpustakaan. Ruang publik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, terutama generasi muda, harus ikut disentuh program literasi.
"Kalau kita sayang kepada generasi yang akan datang, maka generasi yang ada sekarang harus kita persiapkan agar mampu bertahan dan berkembang sesuai zamannya. Salah satunya melalui penguatan budaya literasi," ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan posisi literasi sebagai bekal jangka panjang, bukan sekadar kegiatan seremonial. Pelajar SMP dipilih karena berada di fase pembentukan kebiasaan membaca dan kepercayaan diri.
Pojok Baca di Kafe, Strategi Dekatkan Buku ke Anak Muda
Dispersip Kotabaru mendorong transformasi layanan perpustakaan agar lebih inovatif dan dekat dengan masyarakat. Salah satu caranya lewat kemitraan dengan pelaku usaha untuk menghadirkan pojok baca di tempat berkumpulnya anak muda, seperti kafe.
Fasilitas itu memberi akses bacaan sesuai minat, mulai dari novel, buku pengembangan diri, hingga buku keterampilan praktis. Kehadiran pojok baca di ruang publik diharapkan menciptakan lingkungan edukatif sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan.
Lomba Bercerita di Masjid Apung dan pojok baca di kafe merupakan dua pendekatan yang saling melengkapi. Yang pertama mengasah kemampuan berbicara, yang kedua menyediakan bahan bacaan di titik-titik tempat warga berkumpul.
Apa Dampaknya bagi Pelajar Kotabaru
Kegiatan selama dua hari itu melatih pelajar menyusun cerita, mengatur intonasi, dan tampil di depan penonton. Keterampilan semacam ini jarang didapat di ruang kelas biasa.
Dispersip Kotabaru belum merinci jumlah peserta maupun rencana keberlanjutan program. Namun arah kebijakannya jelas: literasi digeser dari kegiatan seremonial menjadi bagian dari keseharian warga, termasuk di tempat nongkrong.