BANJARMASIN — Karhutla di Kalimantan Selatan tidak hanya meninggalkan asap dan lahan hangus. Peristiwa tahunan ini memunculkan tanda tanya besar di tengah warga: apakah kebakaran terjadi karena musim, sengaja dibakar, atau akibat kelalaian yang tidak disengaja. Perdebatan soal penyebab itu belum tuntas, sementara api terus muncul di sejumlah titik.
Pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten tidak bisa bekerja sendiri menghadapi persoalan ini. Dunia usaha, aparat penegak hukum, akademisi, organisasi masyarakat, media, dan warga diminta mengambil peran sesuai tanggung jawab masing-masing.
Gubernur hingga Relawan Turun Langsung ke Lokasi Kebakaran
Sejumlah pihak tercatat terlibat langsung dalam pemadaman. Gubernur Kalsel, Kapolda Kalsel, jajaran TNI/Polri, BPBD, hingga relawan turut serta ke lapangan memadamkan api. Kehadiran mereka disebut sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian menjaga Kalimantan dari karhutla.
Namun keterlibatan aparat saja tidak cukup. Komitmen bersama dinilai menjadi kunci untuk melindungi hutan, lahan gambut, kawasan pertanian, dan permukiman dari ancaman kebakaran yang berulang setiap tahun.
Media Diminta Sampaikan Titik Api dan Kondisi Udara Secara Akurat
Media memegang peran penting dalam situasi karhutla. Informasi soal titik kebakaran, kondisi udara, langkah penanganan, dan hasil evaluasi perlu disampaikan secara bertanggung jawab. Tujuannya agar masyarakat tidak terjebak kepanikan maupun informasi yang keliru.
Penyampaian data yang akurat juga membantu warga mengambil langkah antisipasi, terutama kelompok rentan yang paling terpapar dampak asap.
Pendidikan hingga Kesehatan Warga Terganggu Asap
Dampak karhutla merambah hampir semua lini kehidupan warga. Aktivitas pendidikan, pekerjaan, transportasi, dan ekonomi ikut terganggu. Yang paling fatal, paparan asap mengganggu konsentrasi anak-anak, lansia, dan orang-orang yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
Persoalan lingkungan ini disebut terus menjadi tantangan serius di Kalimantan. Karena itu, langkah pencegahan, pemulihan lahan, dan penelusuran penyebab terbakarnya lahan perlu diperkuat, bukan hanya penanganan saat api sudah membesar.
Bagi warga Kalimantan Selatan, menjaga Kalimantan disebut sebagai kewajiban di semua lini kehidupan untuk kepentingan bersama. Karhutla bukan sekadar bencana musiman yang selesai saat hujan turun, tetapi persoalan yang menuntut kesadaran kolektif setiap tahun.