KALIMANTAN SELATAN — Kamila Andini, sineas di balik serial Gadis Kretek, kembali dengan proyek sinema terbaru bertajuk Empat Musim Pertiwi. Dalam perkenalan perdana kepada media, ia mengungkapkan bahwa benih cerita film ini justru tumbuh dari momen personal bersama keluarga di tengah keindahan alam Bromo.
Metafora Empat Musim dalam Satu Tempat
Ide awal film ini lahir saat Kamila berlibur ke Bromo bersama suami, Ifa Isfansyah, dan anak-anak mereka. Baginya, lanskap Bromo menyimpan keunikan visual yang jarang ditemukan di tempat lain.
"Salah satu yang secara visual sangat menyentuh saya adalah memang tempat itu tuh tempat di mana saya melihat ada tekstur empat musim dalam satu tempat. Yang di mana tentu saja Indonesia kita enggak punya empat musim," ujar Kamila dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Dari pengalaman itulah, Kamila mulai memetakan gagasan untuk merepresentasikan fase kehidupan perempuan melalui metafora pergantian musim. Ia ingin menghadirkan cerita yang dekat dengan realitas wanita Indonesia tanpa kehilangan sentuhan puitis.
Perjalanan Panjang Sejak 2017
Meski baru diumumkan tahun ini, proses kreatif Empat Musim Pertiwi telah berjalan cukup lama. Kamila mencatat, ia pertama kali menuliskan ide cerita ini pada 2017, namun sempat tertunda cukup panjang.
"Terus di 2023 akhirnya mulai mengembangkan lagi topik tersebut," kata Andini.
Ia pun mengakui sempat berada di persimpangan antara melanjutkan atau menghentikan proyek ini. Keraguan sempat menghampirinya saat proses penulisan berlangsung. "Enggak gampang karena pada saat penulisan juga ada hal-hal yang saya harus terhenti, berhenti, 'Benar enggak ya, saya mau nulis tentang ini?'," ungkapnya.
Namun, Kamila memilih untuk menuntaskan ambisinya. "Kayaknya kalau beneran mau nulis tentang ini saya harus harus go all the way, kayak emang harus push the boundaries juga, harus go beyond gitu," ujar Andini menegaskan komitmennya.
Sinopsis Empat Musim Pertiwi
Empat Musim Pertiwi berkisah tentang Pertiwi, diperankan Putri Marino, seorang perempuan yang baru saja bebas dari penjara setelah menjalani hukuman lebih dari satu dekade. Kepulangannya ke desa asal tidak berjalan mulus—ia justru menghadapi penolakan dari masyarakat sekitar maupun keluarganya sendiri.
Film ini menjadi salah satu judul yang paling dinantikan dari jajaran sineas perempuan Indonesia. Dengan penggarapan yang matang dan isu yang relevan, Empat Musim Pertiwi berpotensi memperkaya khazanah sinema lokal tentang kompleksitas hidup perempuan.