Pencarian

Keluarga Petani Kentucky Tolak Tawaran Rp 416 Miliar untuk Ubah Lahan Jadi Pusat Data AI

Jumat, 07 Agustus 2026 • 18:58:32 WIB
Keluarga Petani Kentucky Tolak Tawaran Rp 416 Miliar untuk Ubah Lahan Jadi Pusat Data AI
Keluarga petani di Kentucky menolak tawaran Rp 416 miliar untuk mengubah lahan pertaniannya menjadi pusat data AI.

Ida Huddleston, pemilik lahan seluas 1.200 hektar, menilai uang sebesar itu tidak sebanding dengan nilai historis dan fungsi lahan pertaniannya. "Mereka menyebut kami petani tua yang bodoh, tapi kami tidak. Kami tahu kapan makanan kami menghilang, lahan kami hilang, dan kami tidak punya air—itu racun. Kami tahu kami pernah mengalaminya," ujarnya kepada stasiun televisi lokal WKRC-TV Local 12.

Tawaran 10 Kali Lipat Harga Pasar yang Ditolak Mentah-mentah

Nilai tawaran yang dilaporkan oleh Local 12 mencapai sekitar 6.000 dolar AS per acre, atau hampir sepuluh kali lipat harga pasar lahan di kawasan tersebut. Angka itu disebut-sebut berasal dari sebuah perusahaan AI besar yang namanya tidak dipublikasikan.

Delsia Bare, putri Huddleston, menegaskan keputusan keluarga untuk tetap mempertahankan lahan tersebut. "Kakek saya, buyut saya, dan seluruh keluarga telah hidup di sini selama bertahun-tahun, membayar pajak, dan memberi makan bangsa dari tanah ini," katanya. "Mereka bahkan menanam gandum saat Depresi Besar dan menjaga jalur distribusi roti tetap berjalan ketika rakyat Amerika tidak punya apa-apa."

Lahan Pertanian Versus Pusat Data: Pertarungan Nilai yang Semakin Nyata

Penolakan ini bukan kasus terisolasi. Gelombang pembangunan pusat data AI memicu konflik serupa di berbagai wilayah Amerika Serikat. Pekan lalu, perusahaan milik Elon Musk, SpaceXAI, setuju untuk membongkar 69 turbin metana sementara di Memphis dalam setahun setelah warga setempat mengeluhkan dampak gangguan.

Bare mengaku dirinya termasuk di antara "puluhan pemilik lahan" yang didekati pembeli anonim tersebut. Namun baginya, tawaran finansial tidak bisa mengalahkan akar sejarah keluarganya. "26 juta dolar tidak berarti apa-apa," tegasnya.

Janji Pertumbuhan Ekonomi yang Diragukan

Huddleston juga meragukan klaim soal manfaat ekonomi yang kerap ditawarkan pengembang pusat data. "Saya bilang mereka pembohong, dan tidak ada kebenaran dalam diri mereka. Itu penipuan," ucapnya sinis.

Kekhawatiran semacam ini muncul dari dua sisi: dampak lingkungan dan perubahan tata guna lahan. Pusat data AI membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan server, sebuah fakta yang membuat banyak komunitas lokal menolak kehadirannya meski diiming-imingi lapangan kerja dan investasi.

Fenomena ini menegaskan bahwa meskipun perusahaan AI memiliki modal melimpah—Nvidia bahkan baru saja menjadi perusahaan pertama yang menembus valuasi 5 triliun dolar AS—tidak semua aset bisa dibeli dengan uang. Bagi keluarga Huddleston, tanah adalah warisan yang tidak ternilai. "Kami akan tetap tinggal, bertahan, dan memberi makan bangsa," kata Bare.

Follow kabarkapuas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: pcgamer.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks