Pencarian

Adat Istiadat dan Tradisi Kalimantan Selatan yang Jarang Diketahui, dari Mappanretasi hingga Batajak

Minggu, 02 Agustus 2026 • 09:48:01 WIB
Adat Istiadat dan Tradisi Kalimantan Selatan yang Jarang Diketahui, dari Mappanretasi hingga Batajak
Warga mengikuti prosesi Mappanretasi, sedekah laut khas pesisir Banjar di Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Orang Banjar punya cara sendiri dalam menjaga hubungan dengan leluhur dan alam. Di balik hiruk-pikuk Banjarmasin yang dikenal dengan pasar terapungnya, tersimpan praktik adat yang diwariskan turun-temurun tanpa banyak sorotan publik. Beberapa tradisi ini bahkan tidak tercatat di buku-buku wisata resmi, hanya hidup di desa-desa sepanjang aliran Sungai Barito dan Martapura.

Ritual-ritual ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah sistem nilai yang mengatur relasi sosial, ekonomi, dan spiritual masyarakat Banjar. Dari ritual tolak bala hingga upacara kematian yang unik, berikut tradisi yang masih dijaga ketat oleh komunitas lokal.

1. Mappanretasi: Syukuran Laut yang Bukan Milik Suku Bugis

Banyak yang mengira Mappanretasi hanya milik suku Bugis-Pinrang di Sulawesi Selatan. Di Kalimantan Selatan, khususnya di pesisir Kotabaru, ritual ini diadaptasi menjadi sedekah laut khas masyarakat pesisir Banjar. Perahu-perahu kecil dihias, diisi sesaji, lalu dilepas ke tengah laut sebagai wujud terima kasih atas tangkapan ikan.

Bedanya dengan versi Sulawesi, Mappanretasi Banjar menggabungkan doa Islam dengan mantra laut berbahasa Maanyan. Prosesinya berlangsung saat air pasang, biasanya jatuh pada bulan Safar. Warga yang tidak ikut melaut tetap berpartisipasi dengan menyiapkan kue tradisional seperti apam dan wajik untuk dibawa ke perahu.

2. Batajak: Ritual Memanggil Hujan yang Hampir Punah

Ketika musim kemarau berkepanjangan melanda lahan gambut, masyarakat Hulu Sungai Utara melakukan Batajak. Ini adalah ritual memanggil hujan dengan media boneka kayu berbentuk manusia yang diarak keliling kampung sambil diiringi musik batang padi. Boneka itu disebut "Batajak", diyakini sebagai perantara roh penjaga air.

Prosesinya unik: boneka dicelupkan ke sungai sebanyak tiga kali, lalu air dari celupan itu dipercikkan ke sawah yang mulai mengering. Ritual ini biasanya dipimpin oleh tetua adat yang juga berprofesi sebagai dukun sawah. Di beberapa desa, Batajak sudah berganti dengan teknologi hujan buatan, tetapi di Desa Tabalong Mati, tradisi ini masih dilakukan setiap musim kemarau panjang.

3. Mamanda: Teater Rakyat yang Mengajarkan Filsafat Banjar

Mamanda sering disalahartikan sebagai kesenian biasa. Padahal ini adalah pertunjukan teater rakyat yang sudah ada sejak abad ke-19. Bedanya dengan lenong atau ketoprak, Mamanda menampilkan struktur kerajaan fiktif: raja, wazir, dan rakyat biasa duduk melingkar di atas pentas. Dialognya spontan, sering menyindir kebijakan pemerintah daerah secara halus.

Yang jarang diketahui, Mamanda punya aturan tidak tertulis tentang "batas olok". Pemain boleh mengkritik siapa saja kecuali tokoh agama dan tetua adat. Pertunjukan biasanya berlangsung semalam suntuk saat acara pernikahan atau khitanan. Di Banjarbaru, komunitas Mamanda masih rutin pentas setiap bulan di Taman Budaya, tanpa tiket masuk.

4. Tradisi Bakar Batang: Balapan Perahu yang Mengandung Unsur Mistis

Bakar Batang adalah balapan perahu dayung khas Kabupaten Barito Kuala. Namanya berasal dari "batang" yang berarti batang kayu, karena perahu yang dipakai adalah batang kayu utuh yang dilubangi. Yang membuatnya langka: setiap perahu dirawat dengan ritual khusus, termasuk menyimpan potongan kemenyan di haluan.

Balapan ini biasanya digelar saat memperingati Maulid Nabi. Panjang lintasan mencapai 200 meter di Sungai Barito. Para pendayung tidak boleh makan nasi sebelum lomba, hanya pisang dan air kelapa. Pantangannya: jika ada penonton yang melintasi lintasan dengan perahu motor, balapan langsung dibatalkan karena dianggap mengganggu "penjaga sungai".

5. Upacara Batamat: Khataman Al-Qur'an dengan Prosesi Mandi

Batamat adalah puncak tradisi khataman Al-Qur'an anak-anak Banjar. Setelah menyelesaikan 30 juz, anak tersebut dimandikan dengan air bunga di halaman rumah. Airnya diambil dari tujuh sumber berbeda: sumur, sungai, dan mata air. Ini melambangkan ilmu yang didapat harus menyatu dengan alam.

Prosesi ini selalu dihadiri oleh guru mengaji dan tetangga. Yang menarik, anak yang di-Batamat-kan harus berjalan di atas tujuh lembar kain putih yang digelar dari pintu rumah ke tempat mandi. Kain itu kemudian dibagikan kepada kerabat sebagai oleh-oleh. Tradisi ini masih kuat di daerah Kandangan dan Rantau, meski generasi muda mulai meninggalkannya karena dianggap repot.

6. Bajangir: Ritual Tolak Bala untuk Bayi yang Lahir di Bulan Sapar

Masyarakat Banjar percaya bayi yang lahir di bulan Sapar (bulan kedua kalender Hijriah) rentan terkena gangguan gaib. Maka dilakukan Bajangir: bayi diayun-ayun di atas ayunan yang terbuat dari kain batik sambil dibacakan syair berbahasa Banjar. Syairnya berisi doa agar dijauhkan dari penyakit dan diberikan umur panjang.

Uniknya, ayunan itu harus digantung di bawah pohon yang berbuah. Setelah prosesi selesai, buah dari pohon tersebut dipetik dan dibagikan ke anak-anak lain. Ritual ini nyaris punah, hanya bertahan di desa-desa pedalaman Kabupaten Balangan. Di perkotaan, Bajangir diganti dengan syukuran aqiqah biasa.

7. Tradisi Wadian: Perdukunan Suku Dayak Meratus yang Kian Terpinggirkan

Di pegunungan Meratus, suku Dayak Bukit masih mempraktikkan Wadian, ritual penyembuhan tradisional yang dipimpin oleh dukun perempuan. Wadian tidak menggunakan ramuan obat, melainkan tarian dan nyanyian yang berlangsung berjam-jam. Dukun ini dipercaya bisa berkomunikasi dengan roh leluhur untuk mendiagnosis penyakit.

Praktik ini mulai ditinggalkan karena generasi muda Dayak Meratus lebih memilih puskesmas. Namun di beberapa desa seperti Loksado dan Batu Bulan, Wadian masih dipakai untuk upacara panen padi. Dukun Wadian tidak menerima bayaran, hanya diberi beras dan ayam sebagai ganti.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah tradisi-tradisi ini masih bisa disaksikan wisatawan?
Sebagian besar masih berlangsung, terutama Mamanda di Banjarbaru dan Bakar Batang di Barito Kuala. Namun jadwalnya tidak tetap, sangat tergantung musim dan acara adat. Sebaiknya cek informasi ke Dinas Kebudayaan setempat sebelum berkunjung.

Adakah aturan khusus yang harus dipatuhi saat menghadiri ritual adat ini?
Hindari memakai pakaian terlalu terbuka dan jangan menyentuh sesaji. Di beberapa ritual seperti Mappanretasi, perempuan yang sedang haid dilarang mendekati perahu sesaji.

Mengapa tradisi seperti Batajak dan Bajangir mulai ditinggalkan?
Faktor utamanya adalah modernisasi dan masuknya pendidikan formal yang menggeser kepercayaan lokal. Generasi muda menganggap ritual ini tidak praktis dan bertentangan dengan ajaran agama yang lebih ketat.

Apakah ada upaya pelestarian dari pemerintah daerah?
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan telah memasukkan Mamanda ke dalam muatan lokal di beberapa sekolah. Untuk Wadian, belum ada program resmi karena dianggap sensitif.

Adat istiadat ini bukan peninggalan mati yang hanya dipajang di museum. Ia adalah sistem adaptasi masyarakat Banjar terhadap lingkungan sungai dan hutan yang keras. Selama masih ada orang yang mau menjaga sungai dan menghormati leluhur, tradisi ini akan terus bernapas—meski pelan, meski tanpa sorotan media.

Follow kabarkapuas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks