Pencarian

Anak Keracunan Makanan? Pertolongan Pertama yang Wajib Ibu Tahu

Minggu, 13 September 2026 • 09:21:31 WIB
Anak Keracunan Makanan? Pertolongan Pertama yang Wajib Ibu Tahu
Ilustrasi anak sakit menjalani perawatan di rumah.

KALIMANTAN SELATAN — Muntah berulang setelah anak menyantap makanan tertentu sering membuat ibu panik. Padahal, respons cepat di rumah bisa menentukan apakah kondisi anak membaik atau justru berujung dehidrasi.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan pertolongan pertama pada anak yang diduga keracunan makanan tidak perlu menunggu ke dokter. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa langsung dilakukan di rumah.

1. Hentikan Makanan yang Dicurigai, Jangan Dibuang

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Dr dr Yogi Prawira, Sp A, Subsp. ETIA(K), menyarankan orang tua menghentikan pemberian makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.

Sisa makanan tersebut sebaiknya disimpan, bukan dibuang. Jika kondisi anak memburuk dan perlu diperiksa lebih lanjut, sisa makanan bisa membantu tenaga medis memastikan penyebabnya.

2. Beri Oralit Sedikit demi Sedikit

Muntah bukan alasan untuk menghentikan asupan cairan. Justru cairan tetap harus masuk agar anak tidak dehidrasi.

Caranya dengan porsi kecil tapi sering. Gunakan oralit dengan formula yang sudah dihitung, bukan racikan sendiri.

"Muntah bukan alasan menghentikan cairan, Tapi kita bisa small frequent. Porsi kecil, tapi sedikit-sedikit. Dan gunakan oralit yang formulanya sudah dihitung. Jadi jangan kita membuat formula sendiri. Karena kadang-kadang kalau perbandingan tidak sesuai, maka tidak bisa diserap," ucap dr Yogi dalam media briefing, Jumat (11/9/2026).

3. Jangan Puasakan Anak

Anak tetap boleh makan sesuai kemampuannya. Memuasakan anak bukan cara mempercepat penyembuhan, malah bisa melemahkan kondisinya.

ASI tetap diberikan seperti biasa. Setelah muntah mereda, ibu bisa memberi makanan lunak dalam porsi kecil seperti bubur, pisang, atau roti.

4. Jangan Hentikan ASI, Tapi Batasi Susu Sapi

Anjuran menghindari susu saat anak muntah sering disalahartikan sebagai larangan menyusui. dr Yogi menegaskan ASI tidak pernah dihentikan dalam kondisi apa pun, kecuali kasus yang sangat khusus.

"Kalau ASI (air susu ibu), tidak pernah kita hentikan dalam kondisi apapun. Kecuali kasus-kasus yang sangat khusus. Tapi kalau kita bicara KLB seperti ini, tidak. Yang kita batasi adalah susu sapi. Kalau teh, kopi pada anak, memang itu tidak boleh diberikan," lanjutnya.

Yang perlu dibatasi adalah susu sapi. Sementara teh dan kopi memang tidak boleh diberikan pada anak dalam kondisi apa pun.

5. Pantau Tanda Dehidrasi dari Frekuensi Pipis

Pastikan anak cukup beristirahat sambil ibu memantau kondisinya. Salah satu indikator paling mudah adalah frekuensi buang air kecil.

Jika anak jarang pipis, lemas, atau matanya terlihat cekung, itu tanda dehidrasi yang perlu segera ditangani tenaga medis.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika muntah tidak berhenti, anak tidak mau minum sama sekali, pipis sangat jarang, atau tampak sangat lemas dan mengantuk.

Bayi di bawah satu tahun dengan gejala keracunan makanan juga sebaiknya diperiksa lebih cepat karena risiko dehidrasinya lebih tinggi.

Menghadapi anak yang keracunan makanan memang bikin cemas. Tapi dengan langkah yang tepat, ibu bisa menjaga anak tetap terhidrasi sambil memantau perkembangannya dari rumah.

Follow kabarkapuas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: health.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks