Banjarmasin dan sekitarnya bukan cuma soal pasar terapung. Di balik hiruk-pikuk sungai dan lalu lintas kelotok, ada ritme tahunan yang dipertahankan turun-temurun. Festival budaya di Kalimantan Selatan bukan sekadar atraksi wisata—ini napas identitas masyarakat Banjar dan Dayak yang terus hidup di tengah modernitas.
Dari pesisir hingga lereng pegunungan, setiap perayaan punya cerita. Berikut lima festival yang layak masuk daftar kunjungan Anda, lengkap dengan konteks sejarah dan tips praktis berdasarkan pengalaman warga lokal.
1. Festival Sungai Martapura: Napas Kehidupan Masyarakat Banjar
Setiap tahun, ruas Sungai Martapura di Banjarmasin berubah jadi panggung raksasa. Perahu hias berlapis lampu warna-warni melintas perlahan, diiringi musik panting dan tari-tarian. Festival ini digelar untuk memperingati hari jadi kota dan menegaskan kembali hubungan erat warga dengan sungai.
Bagi perantau, ini momen langka menyaksikan tradisi bahari yang nyaris punah. Waktu terbaik datang saat senja—udara mulai sejuk, lampu perahu mulai menyala, dan warga berduyun ke tepian. Datang lebih awal untuk mendapat posisi strategis di kawasan Pasar Terapung Siring atau kawasan Dermaga Kembang.
2. Aruh Ganal: Ritual Syukur Suku Dayak Meratus
Di pegunungan Meratus, tepatnya di kawasan Loksado dan sekitarnya, Aruh Galan digelar setahun sekali. Ini ritual adat suku Dayak Bukit sebagai ungkapan syukur atas hasil panen. Prosesinya panjang—mulai dari musyawarah adat, pembuatan sesaji, hingga tarian sakral yang hanya boleh dipentaskan pada momen ini.
Tak ada panggung permanen di sini. Upacara berlangsung di rumah adat Balai atau di lapangan terbuka. Pengunjung diharapkan menghormati aturan setempat: tidak memotret sembarangan saat ritual inti, dan meminta izin pada tetua adat. Waktu pelaksanaan biasanya antara Agustus hingga September, tergantung musim panen.
3. Festival Banjar: Perpaduan Seni, Kuliner, dan Kerajinan
Berbeda dengan festival sungai yang lebih teatrikal, Festival Banjar lebih merakyat. Acara ini berlangsung di area Taman Siring dan kawasan pusat kota Banjarmasin. Pengunjung bisa menemukan puluhan stan kerajinan anyaman purun, kain sasirangan, hingga kuliner khas seperti ketupat kandangan dan soto banjar.
Yang menarik, festival ini sering menghadirkan lomba memasak tradisional dan pertunjukan madihin—seni pantun khas Banjar yang jenaka. Cocok untuk wisatawan yang ingin merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat tanpa harus ikut ritual adat. Jadwalnya biasanya bertepatan dengan libur panjang atau akhir pekan besar.
4. Pawai Takbiran dan Tradisi Baayun Mulud
Kalimantan Selatan punya tradisi Islam yang kental. Saat Idul Fitri tiba, ribuan warga Banjarmasin mengikuti pawai takbiran keliling kota dengan obor dan beduk raksasa. Suasana malam jadi terang benderang, dan suara takbir bergema dari sungai hingga pemukiman.
Yang tak kalah unik adalah Baayun Mulud—tradisi mengayun bayi di ayunan berhias janur saat perayaan Maulid Nabi. Acara ini bisa disaksikan di Masjid Raya Sabilal Muhtadin atau di kampung-kampung sekitar Banjarbaru. Warga percaya tradisi ini membawa berkah dan kesehatan bagi anak.
5. Festival Nusantara di Kandangan: Panggung Keragaman
Kota Kandangan, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, menggelar festival tahunan yang menampilkan tarian dari berbagai daerah di Kalimantan. Acara ini relatif baru dibanding festival lain, tapi punya daya tarik tersendiri karena menyatukan seniman dari lintas etnis.
Panggung utama biasanya di Alun-alun Kandangan. Tiket masuk gratis, tapi tempat duduk terbatas. Datang dua jam sebelum acara dimulai jika ingin posisi nyaman. Di sekitar lokasi, banyak pedagang kaki lima menjual penganan khas seperti apam barabai dan wajip.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kapan waktu terbaik mengunjungi Kalimantan Selatan untuk melihat festival?
Antara Juni hingga Oktober. Sebagian besar festival digelar di musim kemarau, termasuk Festival Sungai Martapura dan Aruh Ganal. Hindari Januari-Februari karena curah hujan tinggi dan akses ke pedalaman terbatas.
Apakah semua festival gratis untuk umum?
Sebagian besar gratis, kecuali acara khusus seperti pesta adat terbatas di kampung Dayak. Untuk festival besar di pusat kota, tiket masuk tidak dipungut biaya. Namun, biaya transportasi dan akomodasi tetap perlu diperhitungkan.
Bagaimana cara menuju lokasi festival di pedalaman Meratus?
Dari Banjarmasin, naik kendaraan roda empat ke arah Loksado. Perjalanan memakan waktu 3-4 jam. Jalan berkelok dan sempit, jadi disarankan sewa mobil dengan sopir lokal yang paham medan. Setelah tiba, pendakian kaki diperlukan untuk mencapai lokasi upacara.
Apa yang harus dibawa saat menghadiri festival adat Dayak?
Bawa air minum cukup, jas hujan lipat (cuaca gunung tak menentu), dan kamera dengan lensa zoom agar tidak mengganggu prosesi. Jangan lupa bawa uang tunai karena sinyal dan ATM terbatas di pedalaman.
Apakah ada festival yang melibatkan wisatawan asing?
Beberapa festival seperti Festival Banjar dan Pawai Takbiran ramah terhadap pengunjung asing. Tidak ada larangan khusus, tapi tetap hormati aturan setempat—misalnya, tidak memakai pakaian terlalu terbuka saat acara keagamaan.
Festival budaya Kalimantan Selatan bukan sekadar tontonan. Setiap perayaan menyimpan lapisan makna—hubungan manusia dengan sungai, rasa syukur atas alam, dan kegigihan mempertahankan identitas di tengah arus zaman. Datanglah dengan rasa hormat, bukan sekadar ingin berfoto. Karena pengalaman paling berharga justru lahir dari interaksi dengan warga yang dengan bangga menceritakan tradisi mereka.