Banjarmasin, akhir pekan lalu. Saya duduk di sebuah warung soto di Jalan Veteran, mendengar obrolan dua orang ibu yang pesan minuman. "Kawanya haja, nah," kata satu ibu ke penjual. Saya yang waktu itu masih baru di Kalimantan Selatan sempat bingung — kawanya itu apa? Ternyata bukan nama es campur, melainkan istilah lokal untuk "air putih biasa". Momen kecil seperti ini yang bikin saya sadar: paham logat dan kosakata Banjar itu bukan sekadar lucu-lucuan, tapi kebutuhan praktis biar komunikasi lancar.
Di artikel ini, saya akan mengupas 7 kosakata dan pola logat khas Kalimantan Selatan yang paling sering dipakai sehari-hari. Mulai dari kata ganti orang, istilah belanja, sampai cara orang Banjar mengakhiri kalimat. Semua berdasarkan pengalaman langsung selama tinggal di Banjarmasin dan beberapa kali ke pelosok Banjar, Tapin, hingga Hulu Sungai Utara.
1. "Kawanya" — Bukan Nama Orang, Tapi Air Putih
Ini salah satu kata yang paling sering bikin salah paham. "Kawanya" di Kalimantan Selatan artinya air putih biasa, bukan air es atau air teh. Kalau kamu ke warung dan bilang "minta kawanya", penjual akan ngasih segelas air putih suhu ruang.
Buat yang baru pindah, jangan kaget kalau teman Banjar ngajak "minum kawanya dulu" di pinggir jalan. Itu artinya mampir beli air mineral, bukan minuman manis. Di beberapa daerah Banjar bagian timur, ada juga yang menyebut "kawanya dingin" untuk air es.
2. "Bapandir" — Bukan Marah, Tapi Ngobrol Santai
Kata "bapandir" sering terdengar di pasar terapung atau warung kopi sepanjang Jalan Ahmad Yani. Artinya ngobrol santai, biasanya sambil duduk lama-lama. "Duduk bapandir" adalah aktivitas sosial utama orang Banjar — mirip konsep ngopi di Jawa, tapi tanpa batasan waktu.
Saya pernah diajak "bapandir" oleh tetangga di Kelurahan Kuripan, dan ternyata itu berlangsung hampir tiga jam. Topiknya campur aduk: dari harga ikan patin di Pasar Sudimampir sampai kabar anaknya yang kuliah di Jember. Intinya, jangan buru-buru kalau diajak bapandir.
3. "Pian" dan "Ikam" — Cara Sopan dan Akrab
Bahasa Banjar punya tingkatan yang mirip dengan bahasa Jawa, tapi lebih sederhana. "Pian" adalah kata ganti "Anda" yang sopan. Dipakai ke orang yang lebih tua, pejabat, atau orang baru dikenal. Sementara "ikam" adalah "kamu" yang lebih akrab, dipakai ke teman sebaya atau yang sudah dekat.
Kesalahan umum yang sering dilakukan pendatang: pake "ikam" ke orang tua atau guru. Ini bisa dianggap kurang ajar. Lebih aman, kalau ragu, pake "pian" dulu sampai lawan bicara yang menawarkan "akai haja, ikam haja" (pake yang akrab saja).
4. "Haja" — Kata Serbaguna yang Bikin Bingung
Kata "haja" mungkin yang paling sering muncul dalam percakapan Banjar. Artinya "saja" atau "aja" dalam bahasa Indonesia. Tapi fungsinya lebih luas: bisa buat penekanan, bisa juga buat mengakhiri kalimat.
Contoh: "Makan haja dulu" artinya "makan saja dulu". Tapi "kawanya haja" artinya "air putih saja". Kalau orang Banjar bilang "iya haja", itu artinya "iya, gitu aja" — bukan berarti dia setuju sepenuhnya. Butuh konteks untuk paham nuansanya.
5. "Bakas" — Bukan Sampah, Tapi Teman Lama
Ini salah satu kosakata yang paling sering disalahartikan. "Bakas" di Banjar artinya teman lama atau mantan rekan. "Bakas sakulahan" artinya teman satu sekolah dulu. "Bakas urang" artinya mantan orang (dalam konteks pernikahan).
Jadi kalau ada yang nanya "itu bakas pian kah?" jangan tersinggung — dia cuma nanya apakah itu teman lama Anda. Di beberapa daerah seperti Martapura, kata ini juga dipakai untuk "bekas" dalam arti barang, tapi konteksnya biasanya jelas dari kalimat.
6. Logat Khas: Akhiran "Kah" yang Melunak
Orang Banjar punya kebiasaan mengakhiri kalimat tanya dengan "kah" yang diucapkan pendek dan melunak. Bukan seperti "kah" dalam bahasa Indonesia baku yang terdengar tegas. Misalnya "sudah makan kah?" diucapkan cepat jadi "sudah makan kah?" dengan nada datar.
Di daerah Banjar Kuala (Banjarmasin dan sekitarnya), logat ini lebih terasa. Sementara di Banjar Hulu (sekitar Rantau, Kandangan, Barabai), logatnya lebih panjang dan nadanya naik-turun. Perbedaan ini mirip seperti logat Jawa Timur vs Jawa Tengah — sama-sama Jawa, tapi beda bunyi.
7. "Bapalu" dan "Bapandir" — Dua Aktivitas Wajib
"Bapalu" artinya jualan atau berdagang. Kata ini akar dari "palu" yang berarti jual. Tapi dalam percakapan sehari-hari, "bapalu" juga bisa berarti proses tawar-menawar yang panjang. "Bapalu" di Pasar Terapung bukan sekadar transaksi, tapi seni sosial.
Sementara "bapandir" seperti yang sudah dijelaskan, adalah seni ngobrol tanpa tujuan. Dua kata ini mencerminkan karakter orang Banjar: ramah, suka basa-basi, tapi juga lihai dalam urusan dagang. Kalau kamu tinggal di Kalimantan Selatan, dua kata ini akan kamu dengar setiap hari.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah bahasa Banjar sulit dipelajari?
Relatif mudah karena masih serumpun dengan bahasa Indonesia. Kosakata dasarnya banyak yang mirip, hanya logat dan beberapa kata kunci yang berbeda. Dalam 2-3 minggu tinggal di Banjarmasin, kamu sudah bisa paham percakapan dasar.
Di mana bahasa Banjar paling kental digunakan?
Di daerah Banjar Kuala (Banjarmasin, Banjarbaru, Martapura) dan Banjar Hulu (Kandangan, Barabai, Amuntai). Semakin ke pedalaman, logatnya semakin kental dan kosakatanya makin berbeda dari bahasa Indonesia.
Apa kata Banjar yang paling sering bikin salah paham?
"Kawanya" dan "bakas" adalah dua kata yang paling sering salah diartikan pendatang. "Kawanya" bukan nama orang, "bakas" bukan sampah. Dua kata ini wajib dihafal sebelum ke Kalimantan Selatan.
Apakah orang Banjar bisa berbahasa Indonesia?
Semua orang Banjar bisa berbahasa Indonesia dengan baik, terutama di kota. Tapi dalam percakapan sehari-hari, mereka lebih nyaman pake bahasa Banjar. Kalau kamu jawab pake bahasa Indonesia, mereka akan menyesuaikan.
Apakah ada perbedaan logat antara Banjarmasin dan daerah lain?
Ada. Logat Banjarmasin cenderung lebih cepat dan pendek. Sementara daerah Hulu Sungai seperti Kandangan dan Barabai logatnya lebih panjang dengan nada yang naik-turun. Tapi semua saling mengerti.
Paham kosakata dan logat Banjar bukan cuma soal bisa ngobrol, tapi juga soal menghargai budaya setempat. Orang Banjar akan lebih terbuka dan ramah kalau kamu berusaha ngomong pake bahasa mereka — meskipun terbata-bata. Jadi, mulai sekarang: kalau ke warung, pesan "kawanya haja". Dan kalau ada yang ngajak "bapandir", siapkan waktu luang yang cukup.