Pencarian

Tradisi Pernikahan Adat Kalimantan Selatan yang Masih Dilestarikan, dari Batatak sampai Baingkat

Senin, 13 Juli 2026 • 18:47:31 WIB
Tradisi Pernikahan Adat Kalimantan Selatan yang Masih Dilestarikan, dari Batatak sampai Baingkat
Masyarakat Banjar melaksanakan prosesi Batatak untuk merundingkan mahar dan hari baik secara musyawarah.

Di Kalimantan Selatan, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan. Ia adalah perekat sosial yang melibatkan seluruh kampung. Keluarga di Banjarmasin, Martapura, hingga pelosuk Hulu Sungai masih memegang teguh prosesi adat yang diwariskan turun-temurun. Ritual ini bukan peninggalan mati, melainkan napas yang terus berdenyut di setiap resepsi.

Masyarakat Banjar membagi prosesi pernikahan ke dalam tiga fase besar: pra-nikah, akad nikah, dan pasca-nikah. Tiap fase punya makna yang menyangkut harga diri keluarga. Berikut tahapan yang masih lazim ditemukan.

1. Batatak: Merundingkan Pinangan Secara Terbuka

Batatak adalah tahap awal di mana pihak pria mengirim utusan ke rumah perempuan. Bukan sekadar lamaran, di sini dibahas jumlah mahar, uang belanja, hingga hari baik. Semua dilakukan dengan bahasa yang halus dan penuh sindiran sopan.

Di Banjarmasin, prosesi ini kerap dihadiri sesepuh dari kedua belah pihak. Mereka duduk bersila di tikar pandan, minum kopi hitam khas Banjar. Keputusan tidak pernah diambil sepihak; semua harus mufakat.

2. Badudus: Mandi Uap Sebelum Akad

Sehari sebelum akad, calon pengantin menjalani Badudus—mandi uap dengan ramuan tradisional. Airnya dicampur jeruk nipis, daun pandan, dan bunga rampai. Tujuannya membersihkan diri secara lahir dan batin.

Prosesi ini biasanya dilakukan di kamar mandi khusus yang diberi dupa. Di beberapa desa di Kabupaten Banjar, Badudus masih dipimpin oleh seorang "pandai" yang hafal doa-doa tolak bala. Wangi asap dupa memenuhi ruangan selama ritual berlangsung.

3. Akad Nikah dengan Mas Kawin Batis Timbul

Inti pernikahan Banjar tetap pada akad yang diucapkan di hadapan penghulu. Keunikannya, mahar wajib disebut dalam bentuk "batis timbul"—uang logam atau koin emas yang ditimbang. Jumlahnya ganjil, biasanya 7, 9, atau 11 keping.

Di Martapura, pusat permata Kalimantan Selatan, mahar sering berupa intan mentah. Ini bukan sekadar harta, melainkan simbol bahwa suami harus mampu memberi nafkah yang "bercahaya". Proses penyerahan mahar disaksikan langsung oleh saksi dari kedua keluarga.

4. Basusun: Saling Berbalas Pantun

Setelah akad, keluarga mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita dengan membawa "susunan"—berupa kue tradisional, buah, dan kain. Momen ini diiringi pantun yang dilontarkan secara bergantian.

Pantun-pantun ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah alat diplomasi: pihak pria merendah, pihak wanita meninggikan. Di desa-desa di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, tradisi Basusun bisa berlangsung hingga satu jam penuh. Jika salah satu pihak kehabisan pantun, dianggap kurang persiapan.

5. Baingkat: Mengantar Pengantin ke Pelaminan

Baingkat adalah prosesi mengarak pengantin dari rumah menuju pelaminan. Pengantin pria berjalan di depan, diikuti keluarga dan rombongan. Iring-iringan ini biasanya diiringi musik terbangan atau rebana.

Di Banjarbaru, rombongan Baingkat kerap melewati jalan utama kampung. Warga yang berpapasan otomatis ikut berdoa. Suara rebana yang bertalu-talu menjadi tanda bahwa pesta akan segera dimulai.

6. Makan Bajambian: Santap Satu Piring

Setelah duduk di pelaminan, pengantin menjalani Makan Bajambian—makan bersama dalam satu piring. Nasi kuning dengan lapa-lapa (lauk kering) disusun rapi. Suami menyuapi istri, lalu sebaliknya.

Ritual ini mengajarkan bahwa dalam rumah tangga, semua harus dibagi rata. Tidak ada yang makan lebih dulu. Di beberapa daerah, jika pengantin pria tidak menyuapi istrinya dengan lahap, ia akan digoda oleh para tamu.

7. Baarak: Pesta Rakyat yang Melibatkan Kampung

Baarak adalah puncak resepsi. Semua warga diundang tanpa undangan resmi—cukup datang dan duduk. Hidangan nasi kuning, ketupat, dan sambal goreng hati disajikan di atas tampah.

Di kampung-kampung di Kabupaten Tapin, Baarak bisa berlangsung dari pagi hingga malam. Tamu datang bergiliran. Tidak ada konsep "meja prasmanan"; semua duduk lesehan dan makan bersama. Sisa makanan dibagikan ke tetangga yang tidak sempat hadir.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu Batatak dalam pernikahan adat Banjar?
Batatak adalah prosesi perundingan antara keluarga pria dan wanita untuk membahas mahar, hari pernikahan, dan uang belanja. Semua dilakukan secara terbuka dengan bahasa yang halus.

Berapa lama prosesi pernikahan adat Banjar berlangsung?
Rangkaiannya bisa memakan waktu 3-5 hari, tergantung kesepakatan keluarga. Mulai dari Batatak, Badudus, akad, hingga Baarak.

Apa makna mahar batis timbul?
Batis timbul adalah uang logam atau koin emas yang ditimbang sebagai mahar. Jumlahnya ganjil dan melambangkan kewajiban suami memberi nafkah yang stabil.

Apakah tradisi Baingkat masih dilakukan di kota besar?
Masih, meski dalam bentuk yang disederhanakan. Di Banjarmasin dan Banjarbaru, Baingkat sering dilakukan di dalam gedung dengan iringan musik rebana.

Bagaimana cara menghormati adat jika menjadi tamu undangan?
Datang tepat waktu, duduk lesehan dengan sopan, dan jangan menolak makanan yang disajikan. Jika tidak bisa makan, cukup sentuh piring sebagai tanda hormat.

Tradisi pernikahan adat Kalimantan Selatan bukan sekadar seremonial. Ia adalah cerminan gotong royong dan hierarki sosial yang masih hidup. Bagi warga lokal yang akan menikah, mempelajari prosesi ini bukan soal kuno, melainkan menjaga identitas. Bagi perantau yang pulang kampung, ia adalah pengingat bahwa akar tidak pernah benar-benar putus. Selamat merayakan, dan jangan lupa menyiapkan pantun untuk Basusun.

Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks