KALIMANTAN SELATAN — Indonesia dianugerahi potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), namun pemanfaatannya masih di bawah 12 persen. Dari potensi tersebut, PGE mengelola sekitar 3 GW di wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan kapasitas terpasang yang dioperasikan mandiri mencapai 727 megawatt (MW).
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan bahwa kedaulatan energi bukan sekadar memastikan pasokan listrik, melainkan kemampuan bangsa mengandalkan kekuatan sendiri untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
"Kedaulatan energi dimulai dari kemampuan kita mengandalkan kekuatan sendiri. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang besar, dan tugas kita adalah mengubah anugerah tersebut menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (12/8).
Kinerja operasional PGE yang telah dibangun selama lebih dari empat dekade menunjukkan konsistensi yang solid. Selain produksi listrik yang tumbuh 13,62 persen, perseroan mencatatkan availability factor sebesar 99,71 persen dan capacity factor mencapai 90,42 persen.
Angka ini menegaskan bahwa pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) mampu beroperasi 24 jam penuh tanpa bergantung pada bahan bakar impor. Berbeda dengan energi surya atau angin, panas bumi tidak terpengaruh perubahan cuaca sehingga pasokan listrik tetap stabil.
Kontribusi PGE tidak berhenti pada produksi listrik. Perseroan mengembangkan pemanfaatan langsung yang menyentuh ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Di Ulubelu, Lampung, inovasi Melon Geothermal menggabungkan panas bumi dengan transfer pengetahuan kepada petani lokal. Sementara di Lahendong, Sulawesi Utara, PGE bersama Universitas Gadjah Mada mengembangkan pupuk booster Katrili berbahan silika panas bumi untuk meningkatkan hasil panen dan menekan biaya produksi petani.
Pendekatan serupa dilakukan di Karaha melalui program Eco Eduwisata Kampung Kopi yang menghasilkan Pupuk COMBINE dari brine panas bumi. Di Kamojang, sejak 2018, PGE bersama petani mengoperasikan Geothermal Dry House—fasilitas pengering kopi yang memanfaatkan uap buangan dari steam trap sebagai sumber panas alternatif yang ramah lingkungan.
Momentum HUT ke-81 RI tahun ini terasa istimewa bagi industri panas bumi nasional karena Indonesia akan memasuki satu abad perjalanan pengembangan energi dari dalam bumi ini.
"Menjelang 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia, kami melihat masa depan dengan optimisme. Jika satu abad terakhir adalah perjalanan untuk membuktikan potensi panas bumi nasional, maka abad berikutnya adalah kesempatan untuk menjadikannya salah satu kekuatan utama Indonesia," kata Ahmad Yani.
PGE tengah mengembangkan sejumlah proyek strategis untuk mempercepat pertumbuhan kapasitas terpasang, antara lain PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatra Selatan, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu, PLTP Lahendong Unit 7-8 dan Binary Unit di Sulawesi Utara, serta proyek Gunung Tiga di Lampung.
Dengan keandalan operasi yang terjaga dan ekspansi proyek yang berjalan, PGE optimistis panas bumi akan menjadi salah satu pilar utama ketahanan energi nasional—bukan hanya sebagai sumber listrik bersih, tetapi juga penggerak ekonomi masyarakat di berbagai daerah.