Pencarian

Liburan Bareng Anak Bikin Lelah? Ini Kunci Itinerary yang Lebih Santai

Rabu, 09 September 2026 • 09:07:31 WIB
Liburan Bareng Anak Bikin Lelah? Ini Kunci Itinerary yang Lebih Santai
Liburan keluarga bersama anak membutuhkan pengelolaan waktu yang fleksibel agar perjalanan terasa lebih santai dan menyenangkan.

KALIMANTAN SELATAN — Momen liburan seharusnya menjadi waktu untuk melepas penat, bukan justru memindahkan daftar pekerjaan dari rumah ke destinasi wisata. Koper harus lengkap, jam makan tidak boleh geser, dan itinerary terus berjalan. Alih-alih menikmati pemandangan, perhatian orangtua habis untuk memastikan semuanya terkendali.

Masalahnya jarang berasal dari destinasi itu sendiri. Perjalanan yang terlalu padat, jarak antartempat yang panjang, dan minimnya jeda istirahat membuat satu hari terasa lebih melelahkan daripada menyenangkan. Anak butuh waktu beradaptasi dengan lingkungan baru, sementara orangtua butuh ruang untuk bernapas.

Mengapa Liburan Keluarga Sering Terasa Melelahkan?

Anak yang makan dengan lambat, ingin beristirahat, atau tiba-tiba kehilangan mood tidak selalu bisa mengikuti tempo perjalanan. Orangtua akhirnya berada di posisi serba salah: memaksakan jadwal rombongan atau memberi anak waktu yang ia butuhkan.

Situasi ini makin terasa ketika keluarga ikut rombongan besar. Waktu makan yang bergeser dan jeda istirahat yang minim membuat energi orangtua cepat terkuras. Padahal, kenangan perjalanan tidak selalu lahir dari panjangnya daftar destinasi.

Momen sederhana seperti sarapan bersama, melihat anak antusias menemukan hal baru, atau menikmati sore tanpa terburu-buru justru sering menjadi cerita yang paling dikenang setelah liburan usai.

Mengapa Jumlah Peserta Rombongan Itu Penting?

Kesadaran akan kebutuhan tersebut melahirkan pendekatan berbeda dalam perjalanan keluarga. WanderKids Journey, misalnya, menghadirkan konsep family open trip dengan jumlah peserta dibatasi hanya 3–4 keluarga atau maksimal 15 orang dalam satu grup.

"Kami percaya traveling bersama anak seharusnya tidak membuat orang tua merasa harus memilih antara menikmati perjalanan atau memastikan kebutuhan anak terpenuhi," kata Nathania Astria, CEO WanderKids Journey, dalam keterangannya pada Lifestyle Liputan6.com, pekan lalu.

"Karena itu, WanderKids Journey mencoba merancang perjalanan dengan ritme yang lebih realistis bagi keluarga, sehingga anak dapat menikmati perjalanan dan orangtua juga memiliki ruang untuk benar-benar menikmati liburannya," imbuhnya.

Dengan grup kecil, anak tetap bisa bertemu teman seusianya. Orangtua pun berkesempatan berinteraksi dengan keluarga lain yang memahami dinamika bepergian bersama anak. Suasana perjalanan tidak terasa seperti mengejar satu destinasi ke destinasi berikutnya.

Kunci Itinerary Ramah Anak: Kelola Waktu, Bukan Mengejar Tempat

Pengelolaan waktu menjadi bagian terpenting dari pendekatan ini. Keberangkatan, durasi aktivitas, jarak perjalanan, waktu makan, hingga istirahat perlu diperhitungkan agar jadwal tetap menarik tanpa membuat keluarga berpacu dengan waktu.

Aktivitas juga sebaiknya dikurasi sehingga orangtua dan anak sama-sama mendapatkan pengalaman bermakna dari destinasi yang dikunjungi. Kehadiran professional guide bisa membantu mengurangi beban teknis yang biasanya dipikul orangtua selama perjalanan.

Ketika detail logistik terkelola, Mom dan Dad punya kesempatan mengalihkan perhatian pada hal yang lebih sederhana: hadir dan menikmati waktu bersama keluarga.

Fleksibilitas Lebih Penting dari Sekadar Destinasi

Pendekatan perjalanan ramah keluarga ini bukan tanpa dasar. WanderKids Journey mengaku membangun konsepnya dari pengalaman merancang perjalanan sejak 2013 di bawah naungan Backpacker Korea. Pengalaman itu membantu mereka memahami bagaimana kebutuhan pelancong Indonesia berubah ketika bepergian bersama anak.

Kenyamanan dan fleksibilitas pada akhirnya sama pentingnya dengan destinasi yang ingin dikunjungi. Sebuah itinerary yang baik bukan hanya mampu membawa keluarga ke banyak tempat, tapi juga tahu kapan harus berhenti dan memberi waktu istirahat.

Liburan keluarga bukan perlombaan mengunjungi sebanyak mungkin destinasi. Perjalanan yang berkesan justru hadir ketika tidak semua waktu diisi agenda. Jadi, untuk liburan berikutnya, coba susun jadwal yang lebih longgar dan lihat bagaimana momen kebersamaan tumbuh dengan sendirinya.

Follow kabarkapuas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks