KALIMANTAN SELATAN — Anggapan bahwa orangtua harus selalu lebih tahu dari anak mulai bergeser. Anak Gen Alpha—yang lahir di tengah derasnya arus teknologi—seringkali lebih lincah menjelajah aplikasi, memahami fitur baru, hingga mengikuti tren yang belum sempat orangtuanya kenali. Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah orangtua perlu belajar dari anak?
Jawabannya, boleh saja sesekali meminta anak mengajari kita tentang suatu aplikasi. Namun perlu diingat, anak sebagai "guru" teknologi tidak lantas melepaskan tanggung jawab pengawasan dari pundak orangtua.
Mengapa Orangtua Perlu Memahami Dunia Digital Anak?
Ketika anak mulai aktif dengan gawai, orangtua tetap memegang peran utama dalam menentukan batasan dan aturan yang sesuai usia. Memahami bahasa internet yang digunakan anak bukan untuk ikut-ikutan tren, melainkan untuk bisa berkomunikasi dan memberikan arahan yang relevan.
Dengan mengerti konteks dunia mereka, orangtua dapat membantu anak memahami konsekuensi dari setiap tindakan di dunia maya. Anak pun tahu ke mana harus mencari bantuan ketika menghadapi konten atau situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Mulai dari Mana? Dampingi, Jangan Langsung Melarang
UNICEF Indonesia membagikan panduan praktis untuk orangtua. Saat anak mencoba platform atau game baru, luangkan waktu untuk mendampingi. Bantu mereka membuat pilihan yang aman dan bijak. Salah satu langkah awal yang penting adalah memastikan pengaturan privasi pada platform baru sudah disetel ketat sejak awal, sehingga meminimalkan pengumpulan data oleh pihak ketiga.
Pendampingan ini bukan berarti mengawasi setiap gerak-gerik anak. Lebih kepada membangun kepercayaan dan keterbukaan. Anak merasa orangtuanya terlibat, bukan menghakimi.
Bagaimana Membangun Komunikasi Dua Arah yang Sehat?
Alih-alih hanya memberi perintah, libatkan anak dalam diskusi seputar aktivitas daringnya. Minta pendapat mereka tentang aplikasi yang digunakan, lalu sampaikan kekhawatiran orangtua secara terbuka. Dengarkan penjelasan mereka tanpa menghakimi. Cara ini membuat anak merasa pendapatnya dihargai, sehingga mereka lebih terbuka menceritakan pengalamannya.
Seiring bertambahnya pengalaman dan usia anak, orangtua perlu mengubah pola pendampingan. Berikan tanggung jawab yang lebih besar sesuai usia mereka, namun tetap pantau dari kejauhan. Ini menjadi latihan kemandirian yang penting, dengan jaring pengaman yang tetap terpasang.
Pada akhirnya, pengasuhan Gen Alpha tidak lagi berpusat pada siapa yang paling mengerti teknologi. Orangtua tak harus hafal semua slang yang sedang viral di media sosial.
Yang lebih esensial adalah membangun hubungan di mana anak merasa aman untuk menjelaskan dunianya, dan orangtua bersedia mendengarkan sambil tetap memberi arahan. Jadilah pendengar yang baik saat anak bercerita tentang dunianya, karena dari situlah pengawasan yang sesungguhnya dimulai.