BANJARBARU — Ribuan titik panas terpantau di Kalimantan Selatan sepanjang musim kemarau tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat 10.910 hotspot hingga 25 Agustus 2026. Kondisi ini memicu kabut asap di sejumlah titik dan sempat menurunkan jarak pandang pesawat hingga 150 meter.
Meski demikian, hasil pemantauan Air Quality Monitoring System (AQMS) menunjukkan kualitas udara di empat wilayah yang terpantau masih berada pada kategori sedang. Kabupaten Banjar mencatat indeks tertinggi dengan angka 97. Disusul Hulu Sungai Selatan (HSS) di angka 83, Banjarmasin 79, dan Barito Kuala 51.
PM2.5 Jadi Indikator Utama Pemantauan Kualitas Udara
Kasi Pencegahan Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, Yuliarini, menjelaskan parameter utama dalam pemantauan ini adalah PM2.5. Partikel halus berukuran 2,5 mikrometer ini berisiko bagi kesehatan pernapasan.
"Parameter yang menjadi perhatian dalam pemantauan ini adalah PM2.5," ujar Yuliarini mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalsel, Rahmat Prapto Udoyo.
Masyarakat diminta tetap waspada, terutama kelompok sensitif terhadap polusi udara. Aktivitas di luar ruangan disarankan dikurangi apabila kualitas udara terus menurun.
1.903 Kejadian Karhutla, Banjar Jadi Wilayah Terparah
Data BPBD Kalsel mencatat 1.903 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 9.088,75 hektare. Angka ini tersebar di 13 kabupaten/kota.
Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 388 kejadian dengan luas lahan terbakar 2.037,72 hektare. Kota Banjarbaru menyusul di posisi kedua dengan 360 kejadian dan lahan terdampak seluas 1.398,40 hektare.
Kabupaten Tanah Laut mencatat 301 kejadian dengan luasan 1.661,77 hektare. Hulu Sungai Selatan mencatat 246 kejadian dengan luas 1.171,63 hektare.
BPBD Perkuat Verifikasi Lapangan untuk Cegah Kebakaran Meluas
Kepala BPBD Provinsi Kalsel, Ronny Eka Saputra, mengatakan data kejadian tersebut menjadi dasar evaluasi sekaligus penguatan langkah pengendalian karhutla di daerah. Pemantauan titik panas melalui satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20 terus dilakukan sebagai sistem kewaspadaan dini.
"Data hingga 25 Agustus 2026 menunjukkan karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Karena itu, pengendalian dan pemantauan harus terus diperkuat, terutama pada wilayah yang memiliki tingkat kejadian dan sebaran titik panas cukup tinggi," kata Ronny.
Ia menegaskan setiap titik panas yang terdeteksi harus segera diverifikasi di lapangan agar kebakaran dapat ditangani sedini mungkin sebelum meluas. Dinas LH Kalsel juga akan terus melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi terkini dari sumber resmi.