KALIMANTAN SELATAN — Pulau Jeju selama ini dikenal dengan wisata alamnya yang memukau, mulai dari puncak Hallasan hingga pantai-pantai berpasir hitam. Namun, ada satu tradisi yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan: para haenyeo, perempuan penyelam yang mencari hasil laut tanpa alat bantu pernapasan. Di Desa Youngrak-ri, tradisi ini kini punya wajah baru.
Kylie Genter, dari AS Menjadi Haenyeo Jeju
Kylie Genter bukan orang Korea. Ia lahir dan besar di Amerika Serikat, lalu menikah dengan seorang penyelam scuba asal Jeju. Awalnya, permintaannya untuk bergabung dengan komunitas haenyeo ditolak karena statusnya sebagai warga asing. Baru sebulan kemudian, aturan dilonggarkan dan ia diberi kesempatan mengikuti wawancara.
Sejak Januari 2024, Genter aktif menyelam di perairan Youngrak-ri. Ia akhirnya diterima dan mendapatkan lisensi resmi sebagai haenyeo. "Saya tidak berpikir sedang membuka jalan. Sebagai orang asing yang melakukan ini, terutama karena saya bukan warga negara Korea, ini adalah tanggung jawab besar," kata Genter kepada CNN, Jumat (28/8/2026).
Diterima Komunitas, Dianggap seperti Anak Sendiri
Kehadiran Genter tidak hanya sekadar jadi anggota baru. Ia berhasil merebut kepercayaan para haenyeo senior di desa tersebut. Presiden Komunitas Haenyeo Youngrak-ri, Hong Bok-nyeo, bahkan menyebut Genter seperti anaknya sendiri.
"Dia bahkan lebih baik daripada kami, orang Korea dan penduduk asli Jeju, dalam menyelam. Saya sangat menyukainya," ujar Hong.
Kepala perikanan Youngrak-ri, Kim Chang-sik, juga mengakui banyak orang datang untuk melihat dan mewawancarai haenyeo asal Amerika itu. "Desa kami memiliki haenyeo Amerika pertama, jadi banyak orang datang untuk mewawancarainya!" ucap Kim.
Ancaman Perubahan Iklim bagi Tradisi Haenyeo
Di balik cerita sukses Genter, tradisi haenyeo tengah menghadapi masalah serius. Regenerasi menjadi tantangan besar. Dari 2.371 haenyeo aktif tahun lalu, sekitar 63 persen berusia 70 tahun ke atas. Hanya sekitar 30 orang atau 1 persen yang berusia 39 tahun ke bawah.
Perubahan iklim juga memperparah kondisi. Suhu laut yang meningkat membuat rumput laut dan hasil laut di sekitar Youngrak-ri semakin berkurang. Kim Chang-sik menuturkan, beberapa tahun lalu para haenyeo masih bisa menangkap lebih dari 100 kilogram teripang dalam sehari. Tahun ini, mereka hanya menemukan sekitar 10 teripang secara total.
"Suhu laut yang tinggi membuat banyak rumput laut menghilang. Padahal kami membutuhkan rumput laut agar kerang bisa datang dan memakannya. Kerang tidak datang karena air laut terlalu hangat," jelas Kim.
Komitmen Seumur Hidup di Jeju
Meski profesi haenyeo semakin sulit dijadikan sumber penghasilan, Genter memilih bertahan. Ia aktif memperkenalkan tradisi ini lewat media sosial dan podcast. "Ini adalah komitmen seumur hidup. Saya akan tinggal di desa ini dan meninggal di desa ini. Kalau kalian siap melakukan itu, cobalah!" tegas Genter.
Bagi wisatawan yang penasaran, Desa Youngrak-ri bisa menjadi destinasi alternatif saat berkunjung ke Pulau Jeju. Anda bisa menyaksikan langsung aktivitas para haenyeo, termasuk Genter, yang menyelam mencari hasil laut. Namun, perlu diingat bahwa aktivitas ini sangat bergantung pada kondisi cuaca dan laut. Informasi terkini mengenai jadwal menyelam dan akses desa dapat dikonfirmasi melalui dinas pariwisata setempat.