KALIMANTAN SELATAN — Lembaga Pembangunan Tanah Federal (Felda) membawa kabar buruk ke meja Presiden Prabowo Subianto. Lewat surat resmi, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim meminta perhatian khusus atas nasib investasi BUMN-nya di Indonesia yang nyaris menguap.
Investasi senilai 2,5 miliar ringgit atau setara Rp 11 triliun di PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) itu terancam hanya menyisakan 200 juta ringgit. Anwar menyebut keputusan investasi ini merupakan warisan era Perdana Menteri Najib Razak, dan kini proses penyelamatan dana tersebut justru tersangkut di meja hijau Indonesia.
Kronologi Kasus dan Langkah Hukum
"Pelaburan ini (EHP) yang tersangkut di mahkamah di Indonesia. Saya telah menulis surat kepada Presiden Prabowo Subianto meminta beliau melihat juga masalah ini. Kemudian kalau tidak ditangani, RM2.5 miliar ini yang mungkin yang kita peroleh nanti RM200 juta. Ini satu contoh," kata Anwar dalam pernyataan yang dikutip Bernama, Rabu (26/8).
Hingga kini, Felda belum berhasil menarik kembali dana investasinya. Eagle High Plantations masih mempermasalahkan kewajiban pengembalian dana tersebut melalui proses hukum di pengadilan Indonesia, membuat BUMN Malaysia itu harus bersabar menunggu kepastian.
Dampak ke Pergerakan Saham BWPT
Kabar ini langsung membebani harga saham BWPT di bursa efek. Pada perdagangan intraday hari ini, Rabu (26/8) pukul 10.03 WIB, saham emiten sawit itu anjlok 3,74% ke level Rp 103 per lembar.
Volume transaksi tercatat mencapai 202,23 juta saham dengan nilai Rp 20,86 miliar. Kapitalisasi pasar BWPT saat ini menyusut menjadi Rp 3,25 triliun.
Kinerja sahamnya pun terbilang memprihatinkan. Secara year to date, harga saham BWPT sudah babak belur hingga 28,67%. Bahkan dalam lima tahun terakhir, nilainya merosot hingga 18,40%, menandakan tekanan berkepanjangan bagi para pemegang saham.
Kasus ini menjadi preseden penting dalam hubungan investasi bilateral Indonesia-Malaysia. Jika tidak ditangani serius, sengketa ini berpotensi meredupkan minat investor asing, khususnya dari negeri jiran, untuk menanamkan modal di sektor perkebunan Tanah Air.