KALIMANTAN SELATAN — Ekonom Celios menilai target pertumbuhan penerimaan perpajakan sebesar 10,5% pada tahun depan terlalu optimistis. Hal ini mengingat tahun berjalan saja pemerintah diprediksi mengalami shortfall atau kekurangan penerimaan dari target yang telah ditetapkan.
"Pemerintah menargetkan penerimaan perpajakan mencapai Rp2.908 triliun dengan pertumbuhan 10,5%, yang saya rasa sangat ambisius mengingat tahun ini terjadi shortfall sehingga target tahun depan kemungkinan besar tidak akan tercapai kembali," ujar Direktur Ekonomi Celios Nailul Huda dalam keterangan tertulis, Minggu (16/8/2026).
Restitusi Pajak Diprediksi Menggerus Kas Negara pada Awal 2027
Salah satu risiko terbesar yang disorot adalah siklus pembayaran restitusi yang berpotensi terjadi pada akhir 2026 dan awal 2027. Pengembalian kelebihan bayar ini dinilai akan mengurangi penerimaan bersih negara secara signifikan di periode tersebut.
"Pembayaran restitusi di akhir 2026 dan awal 2027 bisa menggerus penerimaan perpajakan sehingga kami memproyeksikan angkanya hanya di Rp2.736 triliun, sementara PNBP juga tertekan di angka Rp447 triliun akibat melambatnya ekspor karena PT DSI," kata Huda.
Pelemahan Ekspor Sektor Hulu Menekan PNBP
Selain faktor restitusi, Celios juga menyoroti kinerja PNBP yang diproyeksikan tertekan di angka Rp447 triliun. Penyebab utamanya adalah melambatnya ekspor sumber daya alam, yang dipengaruhi oleh aktivitas operasional PT DSI.
Menurut Huda, kinerja perdagangan komoditas di sektor hulu memiliki korelasi langsung dengan kemampuan pemerintah dalam menghimpun penerimaan negara. Pelemahan di sektor ini otomatis akan mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk membiayai berbagai program pembangunan.
Proyeksi Celios ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam menyusun asumsi makro dan postur belanja negara. Jika realisasi penerimaan tidak sesuai target, defisit anggaran berpotensi melebar dan pemerintah harus mencari sumber pembiayaan alternatif untuk menutup celah tersebut.
Investasi dan kebijakan fiskal mengandung risiko. Keputusan investasi sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan matang berdasarkan data terkini.