RANTAU — Subsektor peternakan di Kabupaten Tapin tidak bisa dilepaskan dari peran ayam pedaging dan ayam petelur. Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Tapin, Muhammad Erwin, menyatakan kedua komoditas ini menjadi sumber pendapatan utama karena perputaran ekonominya yang cepat.
"Produksi ayam pedaging dan ayam petelur relatif cepat, sehingga mampu mendukung perputaran ekonomi peternak. Sementara sapi potong tetap menjadi komoditas yang bernilai tinggi," ujarnya di Rantau, Selasa.
Fluktuasi Harga dan Ketergantungan Pasokan
Meski menjadi primadona, harga ayam pedaging dan telur di Tapin masih kerap berfluktuasi. Menurut Erwin, perubahan harga ini sangat dipengaruhi oleh kondisi pasokan dan permintaan, terutama saat momentum Ramadhan, Idul Fitri, dan akhir tahun.
"Adapun harga sapi cenderung lebih stabil, namun biasanya meningkat menjelang Idul Adha," tambahnya.
Produksi lokal saat ini dinilai sudah mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan masyarakat Tapin. Namun, pada periode tertentu ketika permintaan melonjak atau pasokan menipis, distribusi dari wilayah lain tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan di pasar.
Sapi Potong: Investasi Jangka Panjang Peternak
Di luar ayam, sapi potong juga memegang peran penting dalam struktur ekonomi peternakan Tapin. Komoditas ini tidak hanya bernilai tinggi secara ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai tabungan atau investasi jangka panjang bagi peternak, terutama menjelang Hari Raya Idul Adha.
Pemerintah daerah, melalui Dinas Pertanian, terus mendorong peningkatan populasi ternak. Upaya ini dibarengi dengan perbaikan manajemen budidaya dan penguatan kesehatan hewan agar produksi tetap terjaga dan tidak terganggu wabah penyakit.
Target 2026: Produktivitas Naik, Kesejahteraan Peternak Terjamin
Subsektor peternakan di Tapin tidak hanya berhenti sebagai penyedia pangan. Erwin menekankan sektor ini juga berkontribusi nyata dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat pedesaan, baik melalui perdagangan hasil ternak maupun produk turunannya.
"Hingga akhir 2026, Dinas Pertanian Kabupaten Tapin menargetkan peningkatan produktivitas dan populasi ternak guna memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan peternak di daerah," kata Erwin.
Target ini menjadi sinyal positif bagi para peternak di Tapin. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor peternakan diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi desa yang lebih stabil dan berkelanjutan.