KALIMANTAN SELATAN — Bournemouth resmi menunjuk Marco Rose sebagai manajer baru untuk menggantikan Andoni Iraola yang hengkang ke Liverpool pada akhir musim lalu. Pelatih 47 tahun itu datang dengan reputasi mentereng: membawa Red Bull Salzburg ke semifinal Liga Europa serta menangani Borussia Mönchengladbach, Borussia Dortmund, dan RB Leipzig di kompetisi antarklub tertinggi Eropa.
Pertemuan Hangat dengan Pendahulu
Uniknya, Rose mendapat kesempatan melakukan pertemuan transisi dengan Iraola setelah musim berakhir. Sang pendahulu dengan sukarela membagi informasi untuk membantu Bournemouth tetap kompetitif. “Mereka saling berpelukan erat. Itu momen yang indah karena jarang terjadi di klub,” kata Steve Fletcher, yang telah 34 tahun mengabdi sebagai pemain dan kini menjadi duta klub.
Dari Akuntansi hingga Dapur, Rose Menyapa Semua
Fletcher mengungkapkan bahwa Rose tidak hanya berbicara dengan direktur olahraga Tiago Pinto dan para petinggi. “Dia keliling ke bagian ground, akuntansi, tim media, staf dapur, dan menghabiskan waktu bersama mereka. Bukan sekadar 'halo' dan anggukan. Dia pria yang hebat,” ujar Fletcher kepada FourFourTwo.
Riset Mendalam soal Sejarah Klub yang Hampir Bangkrut
Saat direktur olahraga memberi tahu bahwa Rose ingin bertemu, Fletcher sempat heran. “Saya pikir, 'Kenapa dia mau bertemu saya? Pasti ada orang yang lebih besar dan lebih penting dari saya.' Ternyata dia ingin tahu sejarah klub,” kenang Fletcher. Rose ternyata sudah mempelajari perjalanan Bournemouth yang nyaris keluar dari eksistensi beberapa kali sebelum akhirnya menembus Premier League. “Dia punya aura, kepribadian yang langsung membuat Anda hangat. Dia mendengarkan, bukan sekadar basa-basi,” tambahnya.
Mosaik Handuk Raksasa di Pantai Bournemouth
Kedatangan Rose juga dirayakan dengan cara unik. MrQ, sponsor lengan anyar Bournemouth, membuat mosaik raksasa dari 230 handuk di Pantai Bournemouth, tepat di samping dermaga ikonik kota tersebut. “Mereka mulai dari jam 4 pagi. Saya belum pernah ke pantai sepagi itu sejak latihan pramusim tahun 90-an,” ujar Fletcher sambil tertawa.