Pencarian

Pemerintah AS Gelontorkan Rp 8 Triliun ke Mantan Anak Usaha Google untuk Cari Bahan Baku Chip Alternatif

Kamis, 18 Juni 2026 • 01:25:31 WIB
Pemerintah AS Gelontorkan Rp 8 Triliun ke Mantan Anak Usaha Google untuk Cari Bahan Baku Chip Alternatif
Pemerintah AS memberikan dana Rp 8 triliun untuk riset bahan baku chip alternatif oleh SandboxAQ.

SandboxAQ, perusahaan yang dipimpin oleh mantan CEO Google Eric Schmidt selaku ketua dewan komisaris, menegaskan bahwa pendanaan ini murni untuk penelitian dan pengembangan. Perusahaan tidak akan membangun fasilitas manufaktur sendiri.

Fokus utama SandboxAQ adalah menyempurnakan model kuantum besar (Large Quantitative Models/LQM) yang mereka kembangkan. Berbeda dengan model bahasa seperti ChatGPT yang dilatih dengan teks, LQM SandboxAQ dilatih menggunakan hukum fisika, kimia, dan biologi.

Empat Target yang Dikejar: dari Baterai hingga Magnet Bebas Langka

Riset ini mencakup empat bidang kritis dalam rantai pasok semikonduktor. Pertama, pengembangan material produksi chip yang bebas dari PFAS, kelompok bahan kimia persisten yang dikenal sebagai "forever chemicals" karena sulit terurai.

Kedua, penemuan katalis baru untuk proses fabrikasi semikonduktor. Ketiga, pengembangan magnet yang tidak lagi bergantung pada neodymium dan logam tanah jarang lain yang mayoritas dikuasai China. Keempat, penciptaan baterai untuk pabrik yang tidak bergantung pada lithium impor.

Pelajaran Pahit dari Kegagalan AI di Industri Farmasi

Pendekatan ini bukannya tanpa risiko. National Institutes of Health (NIH) AS mencatat bahwa meskipun para pemimpin industri AI sejak lama meramalkan obat hasil desain AI akan beredar pada 2025, kenyataannya belum ada satu pun obat fungsional yang berhasil diciptakan melalui metode tersebut.

SandboxAQ mengakui bahwa model mereka bahkan belum sepenuhnya bergantung pada data dunia nyata. Sebagian data yang digunakan adalah data sintetis—data buatan yang dihasilkan komputer. Seorang juru bicara perusahaan mengatakan kepada The Register bahwa mereka tetap menggunakan data eksperimental jika tersedia, namun bisa terus bekerja meski data tersebut tidak ada.

Validasi Laboratorium Jadi Penjamin Akurasi

Ketika ditanya soal potensi kesalahan berantai dalam proses penalaran AI yang bisa membuang waktu peneliti, SandboxAQ mengakui bahwa risiko itu adalah pertanyaan krusial yang harus dijawab oleh setiap program material berbasis AI yang ketat.

"Model kami dilatih dengan hukum fisika dan kimia, sehingga model tersebut berlabuh pada realitas fisik, bukan bebas melayang," kata sang juru bicara. Perusahaan menambahkan bahwa uji laboratorium tetap menjadi tahap akhir validasi. "Sebuah material bekerja di laboratorium, atau tidak. Gerbang validasi itulah yang mencegah rantai penalaran menjadi kacau."

Timeline Berbeda untuk Setiap Material

SandboxAQ mengklaim telah mempersingkat waktu pengembangan dari bulanan menjadi mingguan pada tahap penyaringan kandidat material. Beberapa hasil riset, seperti upaya mitigasi PFAS, bisa langsung diterapkan di pabrik yang sudah beroperasi.

Namun perusahaan tidak menampik bahwa kualifikasi di industri semikonduktor sangat ketat dan memakan waktu. "Jalurnya melewati validasi dan kualifikasi industri dengan pabrikan yang sudah ada, bukan dengan membangun kapasitas fabrikasi baru dari nol," jelas juru bicara SandboxAQ.

Bagikan
Sumber: theregister.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks