KALIMANTAN SELATAN — Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS (NHTSA) mengumumkan penarikan kembali yang tidak biasa ini pekan lalu. Dalam dokumen pengajuan resmi, Tesla menjelaskan bahwa 15 kendaraan yang terdiri dari Model 3 tahun 2024 dan Model Y tahun 2026 ini awalnya dipasarkan untuk Kanada. Namun, karena celah regulasi impor antara Kanada dan AS, kendaraan-kendaraan tersebut berhasil masuk ke pasar Amerika tanpa memenuhi spesifikasi teknis yang berlaku.
Perbedaan regulasi keselamatan antara Kanada dan AS menjadi akar masalah. Tesla menyatakan bahwa mobil-mobil yang ditarik ini "tidak memiliki kantung udara lutut, mungkin tidak dilengkapi dengan tindakan pengamanan interior tertentu, dan belum diuji untuk prosedur ketahanan benturan bemper." Meski terdengar sepele, perbedaan ini cukup krusial untuk membuat kendaraan dinyatakan tidak sesuai (noncompliant) dengan standar Federal Motor Vehicle Safety Standards (FMVSS) di AS.
Praktik membangun mobil dengan spesifikasi berbeda untuk tiap pasar memang lazim dilakukan pabrikan global. Namun, sistem impor yang ketat biasanya mencegah kesalahan seperti ini. Celah utama yang dieksploitasi dalam kasus ini adalah jalur impor dari Kanada ke AS, di mana kemiripan regulasi antara kedua negara seringkali membuat proses perpindahan kendaraan terlihat lebih sederhana.
Alih-alih melakukan perbaikan, Tesla memilih jalur yang lebih ekstrem. Bagi pemilik yang sudah membawa mobilnya ke Amerika, pabrikan menawarkan opsi pembelian kembali (buyback) atau penggantian unit yang sesuai standar AS. Langkah ini diambil karena secara teknis, memasang kantung udara lutut dan melakukan pengujian benturan ulang pada mobil yang sudah jadi dinilai tidak praktis dan tidak ekonomis.
Sementara itu, bagi konsumen Kanada yang belum mengimpor kendaraannya, Tesla akan mencabut surat yang memungkinkan impor tersebut. Sebagai gantinya, mereka akan menerima surat baru yang "secara benar mendeskripsikan kendaraan sebagai tidak sesuai" dengan regulasi AS. Jumlah pasti unit yang masih berada di Kanada tidak disebutkan dalam pengumuman recall yang disampaikan melalui regulator AS tersebut.
Recall ini menjadi pengingat bahwa meskipun secara fisik identik, mobil yang diproduksi untuk pasar berbeda bisa memiliki perbedaan teknis yang signifikan. Bagi konsumen yang membeli mobil bekas impor, risiko menerima kendaraan yang tidak lolos standar lokal adalah konsekuensi yang harus diwaspadai. Di Indonesia, praktik impor kendaraan bekas dari Jepang atau Singapura misalnya, kerap menghadapi tantangan serupa terkait perbedaan spesifikasi emisi dan fitur keselamatan.
Kasus Tesla ini unik karena skalanya sangat kecil—hanya 15 unit—namun implikasinya besar. Keputusan Tesla untuk melakukan buyback alih-alih retrofit menunjukkan bahwa compliance terhadap regulasi keselamatan adalah prioritas yang tidak bisa ditawar, bahkan untuk perbedaan sekecil kantung udara lutut sekalipun.