KALIMANTAN SELATAN — Laporan terbaru dari Paren, platform data pengisian daya EV, mengungkap perubahan fundamental di pasar AS. Pada kuartal kedua 2026, jumlah sesi pengisian melonjak 29% dibanding tahun lalu. Infrastruktur yang ada mulai dimanfaatkan secara masif. Namun, di balik pertumbuhan itu, para operator stasiun pengisian (CPO) justru menghadapi tekanan baru.
AS menambah 4.382 port fast charging DC baru pada Q2 2026. Angka ini turun 10% dari 4.865 unit pada periode yang sama tahun lalu. Sepanjang semester pertama 2026, total port baru mencapai 7.903, lebih rendah 7,4% dibandingkan 8.532 port pada paruh pertama 2025.
Meski dua kuartal berturut-turut mencatat perlambatan, Paren menilai ini bukan indikasi pasar melemah. Data ini, ditambah PHK dan pengurangan ekspansi oleh beberapa CPO, menandakan industri menuju fase kedewasaan. "Efisiensi operasional kini sama pentingnya dengan pertumbuhan," tulis laporan tersebut.
Tesla tetap memimpin dengan menambah 1.185 port baru, atau 27% dari total pemasangan nasional. Walmart menyusul dengan 368 port, ChargePoint 333 port, dan Red E 315 port. Namun, cara Tesla membangun mulai berbeda. Rata-rata port per stasiun baru Tesla turun dari 15,0 menjadi 12,1. Sebaliknya, non-Tesla naik dari 3,6 menjadi 4,4 port per stasiun. Artinya, Tesla kini lebih memilih memperbanyak lokasi ketimbang membangun hub raksasa.
Dari total 806 stasiun baru yang beroperasi, sekitar 4 dari 5 berada di perkotaan. California, Texas, Florida, Illinois, dan New York menyumbang 40% dari seluruh stasiun baru. California sendiri mencakup 1 dari 7 stasiun.
Spesifikasi teknis pun meningkat. Sebanyak 72% dari seluruh port baru yang dipasang pada Q2 2026 sudah mendukung daya minimal 250 kW. Hanya 14% yang masih di bawah 150 kW. Pengisian ultra-cepat menjadi norma baru.
Dari sisi biaya, rata-rata harga pengisian cepat di tingkat negara bagian stabil di angka USD 0,538 per kWh. Hawaii menjadi yang termahal dengan USD 0,856 per kWh. Nebraska paling murah di USD 0,428 per kWh. Meski permintaan naik 3,5 juta sesi secara tahunan, utilisasi per port tetap datar. Ini menandakan pasokan infrastruktur seimbang dengan jumlah EV yang terus bertambah.
Skor keandalan rata-rata fast charging AS naik tipis dari 93,6 menjadi 93,8. Peningkatan ini didorong oleh performa stasiun-stasiun anyar yang lebih baik. Namun, Paren menegaskan bahwa keandalan kini bukan lagi nilai jual. "Ini adalah baseline. Pengemudi mengharapkan charger berfungsi setiap saat. Jika tidak, jaringan akan kehilangan pelanggan," bunyi analisis tersebut.
Pergeseran ke konektor NACS semakin cepat. Operator baru banyak yang memasang jumlah konektor CCS dan NACS secara seimbang. Infrastruktur lama masih didominasi CCS. Dengan hampir semua EV baru yang dijual saat ini sudah memiliki port NACS asli, operator yang lambat beradaptasi bakal tertinggal dalam persaingan.