KALIMANTAN SELATAN — OnePlus, merek yang dulu dijuluki "flagship killer", kini nyaris kehilangan identitasnya. Dalam waktu 12 tahun sejak debut OnePlus One, perusahaan yang sempat menjadi favorit para tech enthusiast ini perlahan kehilangan relevansi di pasar global.
Semua berawal dari keputusan berani pada 2014. OnePlus One hadir dengan harga USD 299 (sekitar Rp4,9 juta) dan kemitraan eksklusif dengan Cyanogen, sistem operasi Android kustom yang legendaris. Strategi itu sukses besar—menciptakan fanbase fanatik sekaligus kontroversi di industri.
Puncak kejayaan OnePlus terjadi pada 2018 saat OnePlus 6T mulai dijual di gerai T-Mobile di AS. Namun, 2020 menjadi titik balik. Kenaikan biaya komponen dan tekanan margin memaksa perusahaan menaikkan harga secara signifikan. Posisinya sebagai pemain value langsung tergerus, terutama di segmen premium.
Kehilangan terbesar datang ketika Carl Pei, co-founder sekaligus CMO, hengkang pada 2020 untuk mendirikan Nothing—merek yang kini justru mengadopsi pendekatan "kurang lebih" mirip OnePlus era awal. Tak lama setelah itu, OnePlus mengambil keputusan kontroversial: menggabungkan OxygenOS yang dicintai komunitas dengan ColorOS milik OPPO yang lebih mirip iOS.
Keputusan ini membuat banyak pengguna setia kecewa. OxygenOS dikenal dengan pengalaman stok Android yang bersih dan cepat, sementara ColorOS membawa banyak bloatware dan perubahan antarmuka yang tidak diinginkan.
Meskipun OnePlus masih merilis perangkat berkualitas dalam beberapa tahun terakhir, pangsa pasarnya di AS dan Eropa terus menurun drastis. Menurut laporan Counterpoint, penjualan smartphone global turun 11% year-on-year pada kuartal II 2024—level terendah sejak 2013. Hanya Samsung dan Apple yang mencatat pertumbuhan pangsa pasar, sementara OEM China seperti Vivo, Xiaomi, dan OPPO (induk OnePlus) mengalami tekanan margin di segmen entry-level.
Internal OnePlus juga bermasalah. Prioritas perusahaan kini lebih condong ke pertumbuhan OPPO sebagai induk, bukan pengembangan OnePlus sebagai merek independen.
Rekan jurnalis Damien dari 9to5Google menyebut OnePlus mungkin telah "kehilangan segalanya." Namun, ia mengingatkan bahwa kita tetap bisa mengenang masa-masa kejayaan merek ini—ketika OnePlus One menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi flagship mahal.
Bagi pengguna Indonesia yang masih setia dengan OnePlus, kabar ini mungkin mengecewakan. Namun, persaingan di pasar smartphone kini semakin ketat, dan tanpa diferensiasi yang jelas, bertahan hidup menjadi tantangan berat.
Artikel ini disarikan dari newsletter Inbox by 9to5Google edisi perdana yang terbit pada Selasa dan Kamis. Jika Anda ingin mengikuti perkembangan teknologi global secara ringkas dalam 95 detik, newsletter tersebut bisa menjadi pilihan. Namun, untuk konteks lokal Indonesia, pantau terus Carisinyal, Gadgetren, Kompas Tekno, dan Jagat Review.