KALIMANTAN SELATAN — Laporan keuangan hingga Mei 2026 menunjukkan dua bank BUMN mencetak pertumbuhan signifikan. Selain Bank Mandiri, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mencatat lonjakan laba hingga 54,37 persen menjadi Rp 1,85 triliun. Keduanya menjadi indikator awal efektivitas restrukturisasi di bawah Danantara.
Total aset Bank Mandiri mencapai Rp 2.306 triliun atau tumbuh 20 persen secara tahunan. Penyaluran kredit meningkat 20,6 persen menjadi Rp 1.580,8 triliun, menyasar sektor hilirisasi industri hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Return on equity (ROE) perseroan masih bertahan di kisaran 20 persen. Manajemen menyebut angka ini mencerminkan komitmen mengelola aset negara secara optimal sembari mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Kinerja BTN ditopang pendapatan bunga bersih yang naik 15,15 persen. Hingga Mei 2026, total kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai Rp 403,06 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9,09 persen menjadi Rp 343,95 triliun.
Laba operasional konsolidasi tercatat Rp 2,39 triliun. Manajemen BTN menilai efisiensi operasional tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global. Optimisme perusahaan bertumpu pada potensi sektor perumahan yang masih besar dan penguatan ekosistem perumahan nasional.
Peningkatan kredit Bank Mandiri ke sektor hilirisasi dan UMKM berarti lebih banyak lapangan kerja dan akses modal bagi pengusaha kecil. Sementara BTN, dengan fokus pada pembiayaan perumahan, menjadi kunci bagi program satu juta rumah pemerintah.
Bagi investor, laba bersih yang tumbuh dua digit serta ROE stabil di atas 18 persen menjadi sinyal kesehatan fundamental. Dividen yang dibagikan ke negara pun berpotensi lebih besar, memperkuat posisi Danantara sebagai pengelola aset BUMN yang kredibel.