BANJARMASIN — Anang Syahrani menyebut "Busak-Busak Bahinak" sebagai istilah lama dalam bahasa Banjar yang menggambarkan kondisi seseorang ketika mengalami sesak napas. Maknanya sejalan dengan ungkapan "ngalih bahinak" yang juga berarti kesulitan bernapas.
"Ini adalah istilah peninggalan bahari yang artinya sesak napas. Maknanya senada dengan ungkapan lain, yaitu 'ngalih bahinak'," ujar Anang Syahrani.
Menurut dia, ungkapan tersebut tidak sekadar menggambarkan ketidaknyamanan akibat asap. Istilah itu juga menjadi pengingat terhadap dampak karhutla bagi kesehatan masyarakat.
Kabut Asap Bukan Sekadar Persoalan Lingkungan
Anang menilai persoalan kabut asap perlu mendapat perhatian serius. Dampaknya tidak sebatas lingkungan, tetapi berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan warga.
"Busak-Busak Bahinak merupakan gambaran ketidaknyamanan saat udara diselimuti asap," ucap Anang Syahrani. "Meskipun merupakan istilah lama, ungkapan ini masih relevan dengan kondisi yang kita hadapi saat ini."
Ia menilai pesan yang disampaikan lewat seni budaya lebih mudah diterima. Sebab, bahasanya dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar.
Bakisah, Basyair, dan Madihin Jadi Media Pesan Lingkungan
Tradisi lisan Bakisah, Basyair, dan Madihin dipakai masyarakat Banjar untuk menyampaikan berbagai persoalan kehidupan. Lewat seni itu, isu karhutla dan kabut asap di Kalimantan Selatan disampaikan dengan bahasa budaya yang akrab bagi warga.
Anang mengajak masyarakat dan seluruh pihak meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan serta penanganan karhutla. Upaya itu, katanya, perlu dilakukan melalui langkah nyata sekaligus ikhtiar spiritual.
Salah satu ikhtiar yang disebutnya adalah melaksanakan salat istisqa.
"Semoga berbagai upaya maupun doa akan membawa perubahan," ujarnya. "Masyarakat tidak lagi 'ngalih bahinak' dan dapat kembali menjalani aktivitas dengan udara yang lebih baik."
Harapan Warga Kalsel Bisa Bernapas Lega Kembali
Anang berharap tradisi budaya terus dijadikan sarana menyampaikan pesan kepedulian terhadap lingkungan. Ia juga menginginkan upaya bersama dapat mencegah karhutla dan mengurangi dampak kabut asap.
Dengan begitu, masyarakat Banjar tidak lagi mengalami "ngalih bahinak" atau kesulitan bernapas akibat udara yang diselimuti asap.