KALIMANTAN SELATAN — Dua bayi perempuan kembar asal New Jersey, Amerika Serikat, lahir dengan momen yang tak terlupakan. Shednhee dan Claydee terlihat saling berpelukan saat dilahirkan melalui operasi caesar pada 26 Mei 2026 di Newark Beth Israel Medical Center. Keduanya lahir prematur di usia kehamilan 32 minggu dari ibu bernama Shedeline Pierre Louis.
Keistimewaan kelahiran ini bukan hanya pada posisi mereka yang berpelukan. Shednhee dan Claydee adalah kembar monokorionik-monoamniotik atau yang lebih dikenal dengan istilah MoMo twins. Artinya, kedua bayi berbagi satu plasenta dan satu kantung ketuban yang sama sejak awal kehamilan.
Apa Itu Kembar MoMo dan Seberapa Langkanya?
MoMo adalah singkatan dari monochorionic-monoamniotic. Pada kehamilan ini, dua janin tumbuh dalam satu plasenta dan satu kantung ketuban tanpa ada membran pemisah di antara keduanya. Mereka benar-benar berbagi ruang yang sama selama berada di dalam rahim.
Kondisi ini sangat jarang terjadi. Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Perinatology menyebutkan angka kejadiannya sekitar 1 dari 10.000 kehamilan. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) mengkategorikan kehamilan monoamniotik sebagai kondisi berisiko tinggi yang memerlukan perhatian khusus.
Mengapa Berbagi Satu Kantung Ketuban Berisiko?
Pada kehamilan kembar biasa, setiap bayi memiliki ruang sendiri sehingga tali pusar mereka terpisah. Berbeda dengan kembar MoMo, karena tidak ada sekat, tali pusar kedua janin bisa berada sangat berdekatan dan berisiko saling melilit atau terjerat.
Sebuah penelitian dalam Ultrasound in Obstetrics & Gynecology menemukan bahwa keterikatan tali pusar terjadi pada sekitar 74 persen kehamilan monoamniotik. Namun, Bunda tidak perlu langsung panik. Penelitian lain di American Journal of Obstetrics and Gynecology menunjukkan bahwa lilitan tali pusar tidak selalu menyebabkan masalah serius. Dari 228 janin yang diteliti, angka keselamatan mencapai 88,6 persen.
Yang menjadi perhatian utama dokter bukan sekadar ada atau tidaknya lilitan, melainkan apakah lilitan tersebut sampai mengganggu aliran darah melalui tali pusar.
Pemantauan Ketat dan Risiko Kelahiran Prematur
Karena risikonya lebih tinggi, kehamilan MoMo membutuhkan pengawasan intensif oleh dokter spesialis fetomaternal. Studi multicenter di Inggris yang menganalisis kehamilan MoMo selama periode 2000–2013 menemukan angka kematian perinatal mencapai 14,7 persen secara keseluruhan. Angka ini melonjak menjadi 69,2 persen pada kelahiran sebelum usia kehamilan 30 minggu.
ACOG memperkirakan risiko kematian perinatal pada kembar monoamniotik berada di kisaran 12–23 persen. Karena itu, pengawasan kehamilan harus dilakukan secara individual dan melibatkan spesialis kedokteran maternal-fetal.
Kelahiran prematur juga menjadi tantangan besar. Penelitian terhadap 685 kehamilan kembar monoamniotik menunjukkan bayi-bayi ini berisiko mengalami gangguan pernapasan, gangguan neurologis, infeksi, dan membutuhkan perawatan intensif di NICU.
Perjalanan Kehamilan Shedeline dan Pelajaran untuk Bunda
Kehamilan Shedeline sendiri tidak mudah. Setelah mengetahui mengandung kembar MoMo, ia menjalani pemantauan medis ketat dan harus dirawat di rumah sakit sejak usia kehamilan 26 minggu. Keputusan melahirkan di usia 32 minggu pun diambil tim medis dengan pertimbangan matang demi keselamatan ibu dan bayi.
Bagi Bunda yang sedang mengandung kembar MoMo, kuncinya adalah rutin memeriksakan kehamilan ke dokter spesialis, mengikuti jadwal USG yang disarankan, dan tidak ragu bertanya tentang rencana persalinan. Kehamilan ini memang menantang, tapi dengan pemantauan yang tepat, peluang bayi lahir sehat tetap besar.
Kisah Shednhee dan Claydee yang lahir saling berpelukan menjadi pengingat bahwa setiap kehamilan memiliki keunikannya sendiri. Yang terpenting, Bunda selalu mendengarkan saran medis dan menjaga kesehatan selama masa kehamilan.