BANJARMASIN — Ruko tiga lantai di pojok belakang Depot Medan, Jalan Veteran, Banjarmasin, menjadi saksi keramaian umat Kristen Protestan setiap Minggu pagi. Mereka adalah jemaat GBI Kemah Kesaksian Banjarmasin yang telah dua tahun terakhir menempati bangunan berukuran 6x20 meter itu untuk melaksanakan ibadah rutin.
Di lantai dasar, puluhan jemaat duduk di kursi banquet dengan bantalan tipis. Empat unit AC, tiga kipas angin, dan lima speaker berusaha meredam hawa panas dan memperjelas suara pujian yang mengalun. Sementara lantai dua difungsikan sebagai tempat tinggal penjaga ruko sekaligus ruang Sekolah Minggu, dan lantai tiga hanya dijadikan gudang.
Dua Belas Kali Berpindah Tempat Ibadah
Perjalanan panjang jemaat ini terekam dalam dokumen milik Lembaga Kajian Keislaman dan Keagamaan (LK3) Banjarmasin. Sejak berdiri tahun 1996, mereka telah berpindah-pindah lokasi ibadah hingga dua belas kali. Beberapa tempat yang pernah disinggahi antara lain belakang Apotek Casio di Jalan Haryono MT, Hotel Arya Barito, Ruko CNI di Jalan Veteran, hingga rumah Bapak Tundang di Komplek Airmantan, Jalan Yos Sudarso.
Setiap hari Minggu, jemaat menggelar dua sesi ibadah, pagi dan siang, dengan durasi tiga jam per sesi. Ibadah diisi pujian seperti "Yesus Kemuliaanmu" dan "Hari Ini Kurasa Bahagia", diiringi penari tamborin, hingga perjamuan kudus. Suara dari dalam ruko hanya terdengar hingga radius 30 meter, dan pintu selalu dijaga rapat agar tidak mengganggu warga sekitar.
Satu Toilet untuk Semua Jemaat
Keterbatasan paling terasa adalah fasilitas toilet. Ruko ini hanya memiliki satu toilet yang terletak di lantai dua, memaksa jemaat menaiki 20 anak tangga setiap kali ingin buang hajat. Kondisi ini menjadi persoalan serius bagi jemaat berkebutuhan khusus, termasuk perempuan pengguna kursi roda yang harus keluar mencari minimarket terdekat di Jalan Veteran. Seorang lansia dengan penyakit di kaki pun tak mampu menaiki tangga tersebut.
Ratna (bukan nama sebenarnya), guru Sekolah Minggu, mengungkapkan ruang belajar anak-anak di lantai dua harus disekat. Pasalnya, banyak jemaat yang berlalu lalang menuju toilet satu-satunya tersebut. "Gak fokus anak-anak kalau ada yang lewat, apalagi WC-nya satu aja," ujarnya.
Fasilitas penunjang belajar juga serba sederhana. Anak-anak mengaji di atas spanduk bekas yang dilapisi karpet plastik dan karpet rotan. Kipas angin yang telah dipakai tujuh tahun nyaris tidak berfungsi, dan bahan bacaan terbatas. Alkitab yang tersedia hanya Perjanjian Baru, sementara Perjanjian Lama tidak ada.
Harapan Jemaat untuk Rumah Ibadah Sendiri
Meski penuh keterbatasan, semangat jemaat tak luntur. Seorang jemaat yang datang dari Handil Bakti, Barito Kuala, menuturkan bahwa keberadaan gereja yang layak akan memperkuat pembinaan iman, yang berdampak pada fondasi keluarga. "Ketika mereka (jemaat) keluar ke masyarakat mereka punya karakter, adab, dan pengaruh yang baik," terangnya.
Jemaat yang tinggal di Jalan Rawasari Banjarmasin mengaku tak henti berdoa agar pembangunan gereja segera terwujud. "Walaupun itu belum dijawab, kami tidak pernah putus asa. Kami terus berdoa untuk pembangunan gereja ini," jelasnya.
Di tengah penantian panjang itu, rasa syukur tetap mengisi hati jemaat. Status sewa ruko di Jalan Veteran ini, setidaknya memastikan mereka tak pernah absen beribadah setiap hari Minggu. Bagi mereka, ibadah adalah nafas rohani dan jasmani yang tak bisa ditunda.