BANJARMASIN — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banjarmasin memaksakan diri melanjutkan Latihan Kader II di tengah kondisi udara yang masuk kategori tidak sehat. Akibatnya, sejumlah peserta yang mengikuti forum kaderisasi bergengsi itu harus menerima perawatan medis karena mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan peradangan saluran napas.
Kegiatan yang berlangsung intensif selama beberapa hari itu digelar ketika kabut asap pekat dari karhutla di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menyelimuti ibu kota provinsi. Jarak pandang menurun drastis dan aroma asap menyengat bahkan terasa hingga ke dalam ruangan tempat kegiatan berlangsung.
Gejala Muncul Bertahap Sejak Hari Pertama
Gangguan kesehatan peserta tidak muncul serentak, melainkan berkembang seiring lamanya durasi paparan polutan. Pada hari-hari awal, sebagian peserta mengeluhkan mata perih, tenggorokan kering, dan batuk ringan yang kerap dianggap wajar karena padatnya agenda forum.
Memasuki hari menjelang penutupan, kondisi kesehatan peserta memburuk. Beberapa di antaranya mengalami nyeri tenggorokan berkepanjangan, suara serak, hingga kesulitan menelan. Sebagian lain menunjukkan gejala klinis ISPA seperti demam ringan, batuk berdahak, dan sesak napas ringan hingga sedang.
Peserta dengan riwayat asma menjadi kelompok paling rentan. Mereka mengalami eksaserbasi asma, sementara peserta lain menunjukkan reaksi alergi pernapasan dan gejala mirip bronkitis akut yang ditandai batuk kering berkepanjangan serta rasa berat di dada.
Polutan PM2.5 dan PM10 Jadi Biang Keladi
Karhutla di Kalimantan merupakan persoalan struktural yang erat kaitannya dengan karakteristik lahan gambut dan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Musim kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino membuat titik api bermunculan di berbagai kabupaten di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Asap yang dihasilkan membawa partikulat halus berbahaya seperti PM2.5 dan PM10, karbon monoksida (CO), serta senyawa organik volatil lainnya. Partikel PM2.5 yang berukuran sangat kecil mampu menembus paru-paru hingga masuk ke aliran darah, menjadikannya ancaman serius bagi kesehatan masyarakat perkotaan.
LK II Butuh Stamina Fisik dan Mental Maksimal
Latihan Kader II merupakan tahapan lanjutan dalam sistem perkaderan HMI yang bertujuan membentuk kader dengan kapasitas intelektual, kepemimpinan, dan wawasan keislaman serta kebangsaan. Forum ini diikuti kader-kader pilihan dari berbagai cabang se-Indonesia dengan rangkaian materi, diskusi, forum group discussion (FGD), hingga simulasi kepemimpinan.
Rangkaian kegiatan yang menuntut stamina fisik dan mental maksimal itu menjadi semakin berat ketika peserta harus beraktivitas di tengah kualitas udara yang buruk. Minimnya waktu istirahat dan pemulihan membuat kondisi fisik peserta semakin rentan terhadap serangan polutan.
Mitigasi Risiko Kesehatan Jadi Catatan Penting
Pengalaman penyelenggaraan LK II HMI Cabang Banjarmasin kali ini memberikan gambaran nyata bahwa krisis kualitas udara berdampak langsung pada kegiatan organisasi. Kondisi ini menegaskan pentingnya mitigasi risiko kesehatan dalam setiap penyelenggaraan kegiatan di tengah darurat kabut asap.
Penanganan medis sederhana terpaksa dilakukan di lokasi kegiatan untuk menangani peserta yang mengalami gangguan pernapasan, sementara beberapa kasus yang dinilai lebih berat membutuhkan perawatan tambahan. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa karhutla bukan sekadar bencana ekologis, melainkan krisis kesehatan masyarakat yang berdampak luas dan lintas sektor.