PELAIHARI — Ratusan mahasiswa baru Politeknik Negeri Tanah Laut (Politala) mendapat penguatan literasi tentang perlindungan perempuan dan anak di tengah derasnya arus transformasi digital. Hj. Dian Rahmat menegaskan bahwa penguasaan ilmu tanpa diimbangi integritas dan moralitas tidak akan bermakna di era disrupsi teknologi saat ini.
“Apalah artinya ilmu tanpa integritas, moralitas, akhlak, dan etika. Ini yang harus kita kedepankan, terutama di era digital,” tegas Hj. Dian di hadapan para mahasiswa.
Speak Up Jadi Kunci Cegah Kekerasan Seksual di Kampus
Ketua TP PKK Tanah Laut itu mengingatkan bahwa kekerasan seksual, perundungan (bullying), dan perundungan siber (cyberbullying) bisa terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan kampus. Para mahasiswa diminta berani menjaga diri dan memahami batasan-batasan yang merupakan bentuk pelecehan.
“Tidak ada seorang pun yang berhak menyentuh tubuh kita tanpa persetujuan. Kalian harus tahu batasan mana yang merupakan pelecehan dan berani speak up,” pesannya.
Bijak Bermedia Sosial dan Fokus pada Tujuan Hidup
Hj. Dian juga menyoroti risiko interaksi dengan orang tidak dikenal di platform digital. Ia meminta mahasiswa menjaga privasi dan tidak mudah terpengaruh pujian atau rayuan di media sosial. Selain itu, ia mendorong mahasiswa memiliki tujuan hidup yang jelas dan disiplin menjalani setiap prosesnya.
“Ketika kita fokus dengan apa yang kita cita-citakan dan disiplin melaksanakan setiap tahapannya, insyaallah hasilnya akan mengikuti,” tuturnya.
Sinergi Tiga Lembaga Wujudkan Kabupaten Layak Anak
Kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan kolaborasi perlindungan perempuan dan anak sekaligus mendukung terwujudnya Kabupaten Layak Anak di Tanah Laut. Kepala DP3AP2KB Tanah Laut, Ibu Maria, menyebut seminar ini menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran sejak dini di kalangan generasi muda.
Rangkaian acara tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara DP3AP2KB Tanah Laut, Politala, dan TP PKK Tanah Laut. Sinergi ini menjadi payung hukum untuk edukasi serta perlindungan perempuan dan anak secara berkelanjutan.
Para mahasiswa baru diharapkan tidak hanya unggul dalam hard skill dan soft skill, tetapi juga aktif berorganisasi dan memiliki literasi digital yang memadai untuk menghadapi tantangan bonus demografi dan tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia.