Pencarian

Ustadz Walad Haderawi di Banjarmasin Ingatkan Makna Kemerdekaan, Jangan Merampas Hak Kebebasan Rakyat

Senin, 17 Agustus 2026 • 10:03:01 WIB
Ustadz Walad Haderawi di Banjarmasin Ingatkan Makna Kemerdekaan, Jangan Merampas Hak Kebebasan Rakyat
Ustadz Haji Ahmad Zaruqi menyampaikan tausyiah seusai Salat Subuh di Masjid Al Falah, Banjarmasin Selatan.

BANJARMASIN — Ustadz Haji Ahmad Zaruqi atau yang akrab disapa Walad Haderawi menegaskan bahwa bentuk syukur atas kemerdekaan bukan sekadar seremonial, melainkan komitmen menjaga nilai-nilai kebebasan yang telah diperjuangkan para pendahulu. Pernyataan ini mengemuka dalam tausyiah seusai Salat Subuh di Masjid Al Falah, Komplek Bumi Pemurus Permai, Banjarmasin Selatan.

"Mensyukuri kemerdekaan kita harus menjaga dan merawatnya, bukan merobek-robek makna kemerdekaan tersebut seperti merampas hak kemerdekaan itu sendiri," ujarnya di hadapan jamaah.

Kemerdekaan Hakiki dan Tanggung Jawab Mensyukuri Nikmat

Dalam kajian rutin "Kalam Hikmah" yang membahas pemikiran Ibnu Athaillah Askandari, ulama asal Mesir abad XII, Walad Haderawi mengingatkan bahwa kemerdekaan hakiki baru akan diraih kelak di surga. Kendati demikian, proklamasi 17 Agustus 81 tahun silam merupakan nikmat besar yang wajib disyukuri.

"Allah menyatakan, kalau bersyukur nikmat kan Aku (Allah) tambah," tegasnya mengutip janji Allah dalam Alquran.

Istiqamah dan Cinta Tanah Air sebagai Bagian dari Iman

Mengambil hikmah dari ajaran Ibnu Athaillah tentang istiqamah, ustadz yang pernah menimba ilmu di Hadramaut, Yaman, ini mengaitkannya dengan semangat kebangsaan. Menurutnya, cinta seorang pejuang harus dibarengi kemauan kuat untuk melanjutkan estafet perjuangan para pendahulu negeri ini.

Ia menegaskan bahwa mencintai tanah air merupakan keniscayaan dan bagian dari iman, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW. Pesan ini disampaikan di tengah peringatan kemerdekaan yang kerap dirayakan dengan berbagai perlombaan dan hadiah menarik.

Refleksi Kritis: Kemerdekaan di Tengah Kemiskinan

Walad Haderawi tidak melarang perayaan hari kemerdekaan dengan lomba dan hadiah. Namun, ia menyoroti aspek yang lebih mendasar yang kerap terlewatkan dalam euforia peringatan.

"Apakah merayakan peringatan hari kemerdekaan tidak boleh? Boleh-boleh saja. Tapi, apakah di sekitar itu ada rakyat yang belum merdeka (terbebas dari kemiskinan)?" ujarnya.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi momen refleksi bersama untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat benar-benar merasakan buah dari kemerdekaan, terutama kebebasan dari belenggu kemiskinan. Hal tersebut, lanjutnya, hendaknya menjadi perhatian serius pada setiap peringatan hari kemerdekaan.

Follow kabarkapuas.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kalsel.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks