KOTABARU — Puluhan pengelola perpustakaan di Kabupaten Kotabaru kini tak lagi sekadar merapikan rak buku. Mereka dituntut menguasai aplikasi iKotabaru, sebuah platform perpustakaan digital yang memungkinkan warga meminjam buku elektronik lewat ponsel pintar kapan saja.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kotabaru, Muhammad Fuad Fahruddin, menegaskan bahwa peran pustakawan telah bergeser. “Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat informasi dan literasi masyarakat,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Aplikasi iKotabaru: Buku Elektronik dalam Genggaman Warga
Salah satu materi utama dalam bimtek ini adalah pemanfaatan aplikasi iKotabaru. Pustakawan Sofyan Hamid memandu peserta mengoperasikan fitur-fitur aplikasi yang dirancang untuk memudahkan akses koleksi buku digital tanpa harus datang ke perpustakaan.
Inovasi ini dinilai strategis menjangkau masyarakat di pelosok desa yang selama ini kesulitan mengakses bahan bacaan cetak. Dengan satu ponsel pintar, warga bisa membaca ribuan judul buku dari mana saja.
Standar Nasional Perpustakaan Jadi Acuan Pelatihan
Kepala Bidang Perpustakaan, Afriandi, menyebut pelatihan ini dilatarbelakangi kebutuhan peningkatan kemampuan teknis dan manajerial tenaga perpustakaan. Targetnya, layanan perpustakaan desa dan TBM di Kotabaru mampu memenuhi Standar Nasional Perpustakaan.
“Pelayanan harus lebih profesional, inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang,” kata Afriandi dalam laporannya.
Narasumber dari Kampus: Strategi Literasi di Era Digital
Bimtek menghadirkan Muhammad Isra dari Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Ia memaparkan strategi pengembangan perpustakaan digital dan cara memperkuat budaya literasi masyarakat di tengah gempuran gawai.
Selain materi teknis, peserta juga mendapat sosialisasi mengenai kebijakan perpustakaan daerah, manajemen pengelolaan, hingga proses akreditasi perpustakaan. Semua materi dikemas dalam satu hari penuh pelatihan intensif.
Target Pemkab Kotabaru: Perpustakaan Jadi Pusat Pemberdayaan
Pemkab Kotabaru optimistis peningkatan kapasitas 54 tenaga pengelola ini akan berdampak langsung pada minat baca masyarakat. Perpustakaan desa diharapkan bertransformasi menjadi pusat pembelajaran dan pemberdayaan warga, bukan sekadar gudang buku.
Dengan bekal aplikasi iKotabaru dan pemahaman manajemen modern, para pustakawan kini memiliki senjata baru untuk melawan rendahnya minat baca di daerah.