Koneksi internet di dalam pesawat sudah lama menjadi titik lemah maskapai. Namun data terbaru menunjukkan lompatan besar: beberapa operator penerbangan kini menyediakan kecepatan yang menyaingi, bahkan melampaui, koneksi fixed broadband di rumah.
Laporan dari perusahaan riset aviasi yang dirilis pekan lalu memeringkat maskapai berdasarkan kecepatan unduh rata-rata. Emirates memuncaki daftar dengan kecepatan 100 Mbps, disusul Delta Air Lines di angka 80 Mbps. Angka ini dua hingga tiga kali lipat dari rata-rata kecepatan broadband di Indonesia yang menurut data Kominfo berada di kisaran 25-30 Mbps.
Emirates dan Delta: Teknologi di Balik Kecepatan Tinggi
Emirates mengandalkan sistem satelit generasi terbaru dari Inmarsat dan Thales Alenia Space. Maskapai asal Dubai ini telah memasang antena dual-band di 120 armada Airbus A380 dan Boeing 777 mereka. Delta, di sisi lain, menggunakan jaringan Viasat yang berbasis satelit orbit rendah dan menengah.
Delta mengklaim teknologinya mampu menangani lonjakan permintaan saat seluruh penumpang di pesawat wide-body mengakses internet secara bersamaan. Kedua maskapai menawarkan layanan ini gratis untuk penumpang kelas bisnis dan first class, sementara kelas ekonomi dikenakan biaya berlangganan mulai dari 8 dolar AS (sekitar Rp 128 ribu) untuk akses penuh selama penerbangan.
Siapa Saja yang Masuk Daftar? Posisi Maskapai Asia
Selain Emirates dan Delta, maskapai lain yang masuk jajaran teratas adalah United Airlines dengan kecepatan 70 Mbps, lalu JetBlue dan Virgin Atlantic di kisaran 50-60 Mbps. Dari kawasan Asia, Singapore Airlines dan Japan Airlines tercatat menawarkan kecepatan sekitar 40 Mbps.
Posisi maskapai Asia masih tertinggal karena ketergantungan pada satelit geostasioner yang memiliki latensi lebih tinggi. Namun Singapore Airlines baru saja mengumumkan kemitraan dengan Starlink milik SpaceX untuk meningkatkan kapasitas bandwidth pada armada jarak jauh mereka mulai tahun depan.
Dampak bagi Penumpang dan Masa Depan In-Flight Connectivity
Perubahan ini mengubah ekspektasi penumpang. Dulu, Wi-Fi di pesawat hanya berguna untuk mengirim pesan teks atau email singkat. Sekarang, layanan streaming seperti Netflix, YouTube, dan aplikasi rapat Zoom bisa berjalan mulus.
Bagi maskapai, koneksi cepat menjadi faktor pembeda yang kian penting. Survei dari International Air Transport Association (IATA) menunjukkan 78 persen penumpang milenial dan Gen Z mempertimbangkan kualitas Wi-Fi saat memilih maskapai. Ini mendorong operator seperti Garuda Indonesia dan AirAsia untuk mulai menggelar peningkatan infrastruktur konektivitas di armada mereka.
Meski begitu, belum semua rute mendapat layanan ini. Kecepatan tinggi biasanya tersedia di penerbangan jarak jauh yang melintasi samudra atau benua, sementara rute domestik atau regional masih sering bergantung pada jaringan seluler darat yang lebih lambat dan tidak stabil.