USAF mengonfirmasi bahwa penerbangan bersama antara pilot uji pengembangan dan pilot uji operasional telah berlangsung pada awal Juni. Dalam tradisi pengadaan pesawat tempur AS, pilot uji pengembangan biasanya bertugas memastikan kelayakan terbang dan keamanan sistem sebelum pilot operasional mengambil alih untuk simulasi pertempuran sesungguhnya. Proses dua tahap itu kini dihapus untuk B-21.
"Pilot uji operasional belum pernah masuk kokpit pesawat baru setahap ini dalam sejarah pengembangan USAF," tulis pernyataan resmi Angkatan Udara AS, seperti dikutip dari laporan The War Zone. Keputusan ini menandakan keyakinan penuh terhadap kematangan desain dan sistem Northrop Grumman B-21 Raider.
Dana Segar Rp 72 Triliun dan Target Produksi yang Dipercepat
Tahun 2026 menjadi titik balik bagi program B-21. USAF menggelontorkan tambahan dana sebesar 4,5 miliar dolar AS — setara lebih dari Rp 72 triliun — untuk mempercepat pengiriman dua unit bomber tambahan sebelum akhir tahun. Anggaran ini menjadi sinyal bahwa Washington serius mengejar ketertinggalan teknologi penerbangan strategis.
USAF juga berencana meningkatkan kapasitas produksi tahunan B-21 sebesar 25 persen. Target jangka panjangnya: memiliki 145 unit B-21 yang siap operasi dalam beberapa dekade ke depan, menggantikan armada B-2 Spirit yang telah bertugas selama lebih dari 30 tahun.
Mengapa AS Terburu-buru: Bayang-bayang Bomber Siluman China
Selain kebutuhan mendesak untuk mengganti B-2 yang mulai pensiun, faktor eksternal ikut memacu percepatan ini. Kehadiran bomber siluman China, Xi'an H-20, disebut-sebut sebagai motivator utama. Meskipun status pengembangan H-20 masih simpang siur — jadwalnya molor, tanggal peluncuran tidak pasti, dan spesifikasinya nyaris tidak ada — kekhawatiran bahwa Beijing pada akhirnya akan memiliki pesawat pengebom siluman sendiri sudah cukup untuk membuat Pentagon memacu B-21.
B-21 Raider dirancang sebagai penerus B-2 Spirit sekaligus pesawat pengebom paling canggih secara teknologi yang pernah dibuat AS. Dengan uji tempur yang dimulai lebih awal, USAF optimistis target operasi 2027 masih dalam jangkauan.
Bagi Indonesia, percepatan program B-21 ini menjadi indikator penting dinamika militer di kawasan Indo-Pasifik. Kehadiran bomber siluman generasi terbaru di pangkalan-pangkalan AS di Pasifik — termasuk Guam dan Diego Garcia — akan mengubah kalkulasi pertahanan negara-negara Asia Tenggara. Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan RI mengenai dampak langsung program ini terhadap postur pertahanan nasional.