Pencarian

Harita Nickel Bukukan Pendapatan Rp29,63 Triliun di 2025, Genjot Efisiensi Hadapi Tekanan Harga Nikel Global

Jumat, 29 Mei 2026 • 19:03:41 WIB
Harita Nickel Bukukan Pendapatan Rp29,63 Triliun di 2025, Genjot Efisiensi Hadapi Tekanan Harga Nikel Global
Harita Nickel catat pendapatan Rp29,63 triliun di 2025 dengan fokus efisiensi operasional.

KALIMANTAN SELATAN — Head of Investor Relations Harita Nickel, Lukito Gozali, mengatakan seluruh lini produksi perseroan masih berjalan sesuai target pada kuartal I 2026. Mulai dari segmen penambangan bijih nikel, pengolahan pirometalurgi lewat jalur RKEF, hingga pengolahan hidrometalurgi HPAL yang menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat.

"Saat ini industri nikel global sangat dinamis dan penuh tantangan. Fokus kami adalah tetap menjaga operasional berjalan secara efisien, terukur, dan bertanggung jawab," ujar Lukito dalam keterangan resmi, Jumat (29/5).

Ia menambahkan, integrasi dari hulu ke hilir—mulai tambang sampai pabrik pengolahan—membantu perseroan mengelola produktivitas dan efektivitas operasional. Pendekatan ini dinilai krusial di tengah ketidakpastian pasar yang masih berlanjut.

Penghindaran Emisi Melonjak 37 Persen

Di sisi lingkungan, Harita Nickel mencatatkan kemajuan pada pengurangan emisi karbon. Pada kuartal I 2026, perseroan berhasil menghindari emisi sebesar 977.278 ton CO2e, naik 37 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian itu ditopang oleh pemanfaatan kembali panas buang (waste heat recovery), penggunaan biosolar, dan penerapan teknologi gasifikasi batu bara. Perusahaan juga tengah mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 MWp dan pembangkit listrik berbasis panas buang dari fasilitas HPAL sebesar 50 MWp.

Tak hanya itu, perseroan mulai menerapkan Energy Management System yang selaras dengan standar ISO:50001. Langkah ini untuk memastikan penggunaan energi lebih terukur dan berkelanjutan.

Audit IRMA dan Rantai Pasok Bertanggung Jawab

Harita Nickel juga memasuki tahap corrective action dalam evaluasi kinerja berdasarkan standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Perusahaan bersiap menjalani audit Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) Supply Chain Due Diligence Plus (SCDDP) Module.

Proses ini merupakan bagian dari penguatan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) serta praktik rantai pasok yang bertanggung jawab. Perusahaan menargetkan net zero emission pada 2060.

"Di tengah dinamika industri yang terus berkembang dan semakin menantang, perusahaan akan tetap berfokus pada efisiensi, optimalisasi operasional, dan penguatan daya saing jangka panjang," tutup Lukito.

Dengan pendapatan Rp6,81 triliun pada kuartal I 2026, perseroan optimistis bisa mempertahankan momentum pertumbuhan meski harga nikel global masih fluktuatif. Kunci utamanya: efisiensi di semua lini dan komitmen pada operasional yang bertanggung jawab.

Bagikan
Sumber: tambang.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks