BANJARBARU — Sebanyak sepuluh penulis muda dari berbagai daerah di Indonesia terpilih untuk mengikuti program residensi dan inkubasi sastra MTN Lab x Wabul Sawi Festival (WSFest) 2026 di Kalimantan Selatan (Kalsel). Mereka akan menjalani serangkaian kegiatan lapangan selama 23-26 Mei untuk menggali data dan pengalaman langsung sebagai bahan penciptaan cerita pendek.
Para penulis yang lolos seleksi ketat dari 192 karya cerita pendek yang masuk itu adalah Endry Sulistyo (Samarinda), Windy Joana (Barru, Sulawesi Selatan), Rafii Syihab (Banjar, Kalsel), Serli Ariska (Seruyan, Kalimantan Tengah), Arif Kurniawan (Bengkulu), Adjie Valeria Christiasih (Kutai Kartanegara), Rizky Riawan Nursatria (Pati, Jawa Tengah), Tiara Karina (Banjarmasin), Ginanjar Teguh Iman (Magelang), dan Musa Bastara (Banjar).
Ekspedisi Budaya dan Lingkungan Jadi Bekal Karya
Selama residensi, para penulis tidak hanya duduk di kelas. Mereka dijadwalkan mengikuti Jelajah Budaya Banjar abad ke-5, Ekspedisi Oranje Nassau Pengaron, observasi “Trauma Landscape” Rantau Bakula, hingga Manurih Gatah bersama masyarakat setempat. Tur Museum Lambung Mangkurat dan Susur Sungai juga masuk agenda untuk memperkaya perspektif.
Direktur Wabul Sawi, Hudan Nur, menegaskan bahwa program ini mencari penulis yang mampu menggerakkan sesuatu, tidak sekadar menulis di atas kertas. “Tujuannya agar atmosfer di Kalimantan ini bisa terhubung,” ujarnya.
Mentor dan Fasilitator Dampingi Proses Kreatif
Tiga mentor akan mendampingi para penulis selama program, yakni Kurnia Effendi, Dadang Ari Murtono, dan Mutia Sukma. Selain itu, fasilitator seperti Wien Muldian, HE Benyamine, dan Bumi B. Ibra turut membantu proses kreatif. Pendampingan berlangsung sejak pra-acara, saat residensi, hingga pasca-kegiatan.
“Pengalaman empirik itu tidak hanya menjadi catatan, tetapi juga diolah menjadi cerita pendek yang mampu mengetuk kesadaran dan mendorong kebijaksanaan dalam menjaga bumi,” kata Hudan, penyair perempuan yang juga penggagas festival.
Hasil Karya Akan Dibukukan dan Dipasarkan Global
Koordinator MTN Seni Budaya Bidang Sastra, David Irianto, menyebut bahwa program ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Kebudayaan RI dengan komunitas di seluruh Indonesia. Karya para penulis nantinya tidak hanya dibukukan, tetapi juga berpotensi dipasarkan di platform global.
“Karyanya kemungkinan dipasarkan di web-web global,” ujar David, menegaskan keseriusan pemerintah dalam mempopulerkan sastra Indonesia ke kancah internasional.
Kasubag TU Direktorat Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga dan Pranata Kebudayaan, Citra Arindi, menambahkan bahwa semangat Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon adalah menjadikan sastra Indonesia mendunia lewat tagline “Talenta Indonesia, Inspirasi Dunia”.
“Untuk peserta jangan cepat berpuas diri, kembangkan jaringan, komunikasi jaga. Mari kita jadikan momentum ini sebagai langkah awal untuk bisa terus berkolaborasi dan berkembang,” tandas Citra.