TANJUNG — Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kabupaten Tabalong resmi menjalin kerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk melakukan ekpansi budidaya cabai Tiung Tanjung. Kerja sama ini difokuskan pada penelitian tingkat adaptasi varietas lokal unggulan tersebut di luar wilayah asalnya.
Kepala DKP3 Kabupaten Tabalong, Fahrul Raji, mengungkapkan bahwa hasil uji lapangan di kawasan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, menunjukkan hasil positif. Tanaman ini mampu mempertahankan ciri khasnya meskipun tumbuh di lingkungan yang berbeda dari tanah asalnya di Bumi Saraba Kawa.
Kualitas dan Tingkat Kepedasan Tidak Berubah
Ketua tim peneliti ULM, Yudhi Ahmad Nazari, menjelaskan bahwa parameter pertumbuhan, bobot buah, hingga kualitas rasa cabai Tiung Tanjung tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan hasil produksi di Tabalong. Hal ini menjadi sinyal kuat bahwa varietas ini memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi.
"Tingkat kepedasan cabai tiung Tanjung di luar wilayah Tabalong masuk dalam kategori pedas dengan tingkat kepedasan 60.800 SHU, tak beda dengan di wilayah asal," jelas Yudhi yang juga merupakan dosen di Fakultas Pertanian ULM.
Data uji lapang ini krusial untuk mengevaluasi adaptabilitas varietas sebelum disebarluaskan secara masif. Menurut Yudhi, pengembangan di luar daerah asal akan memperluas penyebaran varietas berkualitas serta mendukung diversifikasi produksi pertanian untuk ketahanan pangan regional.
Target Sasaran Petani dan Budidaya Pekarangan
Pemerintah Kabupaten Tabalong berencana mengoptimalkan hasil riset ini untuk mendorong minat tanam di kalangan petani hingga masyarakat perkotaan. Pemanfaatan lahan pekarangan menjadi salah satu target utama untuk menjaga stabilitas pasokan komoditas cabai di pasar lokal.
"Kedepannya DKP3 setempat akan lebih mengoptimalkan penyebarluasan budidaya cabai ini ke petani hingga masyarakat perkotaan dengan memanfaatkan pekarangan termasuk edukasi penanggulangan hamanya," kata Fahrul Raji, Minggu.
Cabai Tiung Tanjung sendiri selama ini dikenal sebagai varietas lokal cabai rawit dengan produktivitas tinggi. Selain memiliki ketahanan yang baik terhadap serangan virus dan penyakit layu, pusat pembenihan legalnya telah lama berkembang di Desa Uwie, Kecamatan Muara Uya, yang melayani permintaan hingga ke seluruh Indonesia.
Memperkuat Reputasi Tabalong Sebagai Pusat Benih
Keberhasilan penelitian di Banjarbaru ini diyakini akan memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi Kabupaten Tabalong. Selain meningkatkan reputasi daerah sebagai produsen varietas unggul, kerja sama ini memperkuat jejaring riset dan kemitraan strategis dengan akademisi.
Integrasi antara riset kampus dan kebijakan pemerintah daerah ini membuka peluang pasar benih yang lebih luas. Dengan data ilmiah yang solid, produk hasil pertanian Tabalong memiliki nilai tawar lebih tinggi di pasar nasional, sekaligus memperkokoh posisi daerah sebagai penyangga pangan di Kalimantan Selatan.
Dalam penelitian ini, Yudhi Ahmad Nazari didampingi oleh anggota tim peneliti lainnya, yakni Dr Joko Purnomo dan Gani Jawak dari Fakultas Pertanian ULM Banjarbaru.