KALIMANTAN SELATAN — Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan empat pejabat kunci ekonomi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2026) siang. Rapat ini melibatkan Menteri Keuangan Suahasil Nazara, CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Kepala BP BUMN Dony Oskaria, dan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti. Agenda pastinya belum diungkap, tetapi kehadiran gubernur bank sentral memberi sinyal pembahasan menyentuh stabilitas ekonomi dan pasar.
Suahasil Nazara mengonfirmasi dirinya diundang untuk rapat bersama Prabowo di Istana. Ia menolak merinci pokok pembicaraan. "Diundang rapat ke Istana," kata Suahasil kepada wartawan di lokasi.
Rosan Perkasa Roeslani memberi gambaran lebih longgar. Menurutnya, pertemuan dengan tim ekonomi adalah rutinitas untuk memperbarui perkembangan terkini. "Biasalah, sama tim ekonomi kan ini. Bertemu, ya paling update. Untuk ke depannya dan biasa untuk mengamankan supaya ekonomi kita supaya lebih optimal," ujarnya.
Komposisi peserta rapat mencakup hampir seluruh lini pengambil kebijakan ekonomi. Suahasil mewakili fiskal negara. Destry Damayanti mewakili moneter dan stabilitas nilai tukar. Rosan duduk di dua kursi sekaligus, yakni Menteri Investasi dan Hilirisasi serta Kepala BKPM, dengan tambahan peran sebagai CEO Danantara. Dony Oskaria mewakili pengelolaan badan usaha milik negara.
Kehadiran Destry membuat pertemuan ini berbeda dari rapat koordinasi fiskal biasa. Gubernur bank sentral biasanya hanya masuk ruang rapat presiden ketika pembahasannya menyentuh suku bunga, likuiditas, atau tekanan terhadap rupiah.
Bank Indonesia memegang kendali atas BI Rate dan intervensi pasar valuta asing. Setiap keputusan moneter berdampak langsung ke biaya utang pemerintah, bunga kredit perbankan, dan imbal hasil obligasi negara. Investor asing yang memegang SBN dan saham perbankan akan mencermati hasil pertemuan ini sebagai sinyal arah kebijakan.
Dari sisi fiskal, Suahasil membawa portofolio penerimaan negara dan belanja APBN. Ruang fiskal yang terbatas membuat koordinasi dengan bank sentral dan BUMN semakin penting, terutama bila pemerintah ingin mendorong belanja tanpa menekan pasar obligasi.
Rosan dan Dony mewakili dua mesin investasi negara. Danantara mengelola aset BUMN untuk membiayai proyek strategis. BP BUMN mengawasi kinerja perusahaan pelat merah yang menjadi sumber dividen negara.
Keduanya berada di garis depan bila pemerintah memilih mempercepat proyek hilirisasi dan infrastruktur. Keputusan investasi Danantara maupun restrukturisasi BUMN kerap butuh dukungan fiskal dan likuiditas perbankan, sehingga rapat gabungan dengan BI dan Kemenkeu menjadi wajar.
Tidak ada pejabat yang menyebut agenda spesifik, hasil rapat, maupun keputusan yang diambil. Suahasil hanya menyebut undangan rapat tanpa merinci materi. Rosan memilih jawaban umum soal pembaruan kondisi ekonomi.
Bagi pelaku pasar, ketiadaan rincian agenda menyisakan dua kemungkinan. Pertemuan ini bisa jadi forum koordinasi rutin menjelang akhir tahun anggaran. Bisa juga pembahasan awal atas kebijakan yang belum diumumkan, termasuk langkah menjaga stabilitas rupiah dan mendorong investasi.
Sejumlah menteri lain juga terlihat memasuki kompleks istana pada waktu yang berdekatan. Pantauan IDX Channel di lokasi mencatat kedatangan para pejabat sejak siang. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Istana soal hasil pertemuan.