KALIMANTAN SELATAN — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan di Indonesia baru terjadi pada November dan Desember 2026, mundur 20-30 hari dari rata-rata klimatologis akibat El Nino sangat kuat. Sekitar 61 persen wilayah daratan Indonesia mengalami kemunduran jadwal musim hujan, dengan 24 persen luas daratan baru masuk musim hujan pada November dan 17 persen pada Desember. Kemunduran ini membuat durasi musim hujan lebih pendek, tetapi curah hujan berpotensi lebih lebat dan memicu banjir serta longsor.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20-30 hari, akibat pengaruh El Nino. Pernyataan itu disampaikan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (26/10).
Penyebabnya bukan satu fenomena tunggal. El Nino dengan intensitas kategori sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif meningkatkan suhu udara sekaligus menekan potensi pertumbuhan curah hujan sepanjang musim kemarau 2026. Kekeringan ekstrem yang muncul dari kombinasi keduanya kemudian menggeser jadwal awal musim hujan.
BMKG mencatat sekitar 61 persen wilayah Indonesia mengalami kemunduran jadwal musim hujan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Keterlambatan tidak terjadi serentak di semua daerah, sehingga awal musim hujan di Indonesia berlangsung bertahap.
Sebagian besar wilayah baru memasuki musim hujan pada November, mencakup 24 persen luas daratan Indonesia. Sisanya, sekitar 17 persen luas daratan, baru mulai pada Desember. Pola ini berbeda dari kondisi normal ketika sebagian besar wilayah sudah diguyur hujan lebih awal.
Pada November, awal musim hujan diprediksi terjadi di sejumlah wilayah berikut:
Wilayah yang baru memasuki musim hujan pada Desember mencakup area lebih luas di Jawa, Bali, NTB, NTT, dan Sulawesi:
Musim hujan 2026 tidak hanya datang terlambat, tetapi juga diprediksi lebih singkat. BMKG menyebut curah hujan akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal.
"Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal. Jadi, kita harus bersiap mulai sekarang," kata Faisal.
Kombinasi durasi pendek dan intensitas tinggi itu membuat BMKG meminta peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Banjir dan longsor menjadi dua risiko utama yang perlu diantisipasi warga di daerah rawan.
Bagi pengguna smartphone aktif, informasi awal musim hujan ini berguna untuk mengatur jadwal perjalanan dan aktivitas luar ruang pada November-Desember. Aplikasi cuaca dan kanal resmi BMKG menjadi rujukan paling akurat untuk memantau peringatan dini di tingkat kabupaten.
Pelaku bisnis digital dan UMKM yang bergerak di sektor logistik, agribisnis, dan ritel daring perlu menyesuaikan proyeksi permintaan. Keterlambatan musim hujan biasanya menggeser pola belanja produk pertanian dan kebutuhan musiman, sekaligus menaikkan risiko gangguan pengiriman di jalur darat saat hujan lebat turun.
Bagi investor startup, sinyal ini relevan untuk menilai eksposur portofolio di sektor agritech dan asuransi pertanian. Perusahaan yang punya data cuaca granular dan sistem peringatan dini berpotensi mendapat permintaan lebih tinggi dari korporasi maupun pemerintah daerah menjelang puncak musim hujan.
BMKG menegaskan jadwal awal musim hujan bisa bergeser seiring dinamika atmosfer. Pembaruan prediksi dan peringatan dini akan dirilis bertahap menjelang November, terutama untuk wilayah yang lebih dulu memasuki musim hujan.