Bursa Asia Merosot Ikuti Wall Street, Saham Teknologi Jadi Beban Utama

Penulis: Deni Kurniawan  •  Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:23:02 WIB
Bursa saham Asia merosot pada Jumat (30/10/2026) menyusul tekanan Wall Street.

KALIMANTAN SELATAN — Bursa saham Asia merosot pada Jumat (30/10/2026) setelah tekanan Wall Street kembali menerpa sentimen investor global. Kekhawatiran atas tingginya belanja investasi kecerdasan buatan (AI) dan prospek suram raksasa teknologi Amerika Serikat menjadi pemicu utama koreksi.

Koreksi di pasar Asia terjadi setelah sejumlah emiten teknologi besar AS merilis kinerja dan panduan yang mengecewakan. Tekanan itu merambat cepat ke saham-saham teknologi utama di Korea Selatan dan Jepang, mengutip Trading Economics.

Wall Street menjadi sumber guncangan. Investor kembali mempertanyakan keberlanjutan lonjakan belanja modal yang dikeluarkan perusahaan-perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI.

Amazon dan Intel Jadi Biang Tekanan

Di perdagangan setelah jam bursa, saham Amazon jatuh sekitar 7 persen. Penurunan terjadi setelah perusahaan mengungkapkan kenaikan tajam belanja modal yang memicu kekhawatiran atas margin ke depan.

Tekanan lebih dalam datang dari Intel. Saham produsen cip itu merosot 23 persen setelah memberikan proyeksi kinerja kuartalan yang lebih lemah dari ekspektasi pasar.

Intel juga menyoroti perlambatan pasar komputer pribadi (PC), menambah daftar kekhawatiran bagi pelaku pasar teknologi global.

Investasi AI Kembali Jadi Sorotan

Belanja besar untuk infrastruktur AI kini berada di pusat perhatian investor. Pasar mulai mempertanyakan seberapa cepat pengeluaran tersebut berbuah menjadi pendapatan.

Keraguan itu menghantam saham-saham teknologi yang sebelumnya menikmati penguatan akibat euforia AI. Ketika panduan kinerja mengecewakan, koreksi pun berlangsung cepat.

Dampak ke Pasar Asia dan Investor Lokal

Bagi investor di Asia, tekanan ini menjadi pengingat bahwa koreksi saham teknologi AS cepat menular ke kawasan. Sektor teknologi di Korea Selatan dan Jepang menjadi yang paling terpukul.

Pelaku pasar Indonesia perlu mencermati apakah sentimen negatif berlanjut ke sesi berikutnya. Koreksi di Wall Street kerap memicu arus keluar dana dari aset berisiko di negara berkembang.

Sejauh ini, fokus pasar tertuju pada apakah raksasa teknologi AS akan menahan laju belanja modal atau tetap agresif mengejar kapasitas AI. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah bursa Asia dalam beberapa sesi ke depan.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top