BRIN Percepat Riset Vaksin Malaria, Target Selesai 3 Tahun Lebih Cepat

Penulis: Andi Pratama  •  Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:22:31 WIB
Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan arahan percepatan riset vaksin malaria usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana, Jakarta.

KALIMANTAN SELATAN — Kepala BRIN Arif Satria menyebut Presiden Prabowo meminta riset vaksin malaria dipercepat hingga tiga tahun dari jadwal semula. BRIN kini mengembangkan empat kandidat vaksin, bagian dari lima sampai enam kandidat yang digarap bersama Kemenkes RI.

Arif Satria menyampaikan arahan percepatan riset vaksin malaria usai bertemu Prabowo Subianto di Istana, Jakarta, Selasa (27/10/2026). Menurutnya, Presiden beberapa kali menelepon langsung untuk menanyakan perkembangan vaksin.

Permintaan itu bukan tanpa alasan. Sampai sekarang belum ada vaksin malaria yang tersedia di dunia, sementara penyakit ini masih menjangkiti banyak negara.

Empat Kandidat Vaksin Sedang Diuji di BRIN

Arif menyebut BRIN memiliki empat kandidat vaksin malaria yang sedang diteliti. Totalnya, ada sekitar lima sampai enam kandidat yang dikembangkan lewat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Kementerian Kesehatan.

"Tadi kami juga karena Bapak Presiden beberapa kali telepon saya menanyakan soal vaksin. Bagaimana kemandirian vaksin? Jadi vaksin ini, khususnya malaria, ini saat ini riset di BRIN sedang kita lakukan, dan BRIN memiliki empat kandidat vaksin," kata Arif.

Dukungan Penuh untuk Produksi Dalam Negeri

Percepatan tiga tahun itu, kata Arif, bergantung pada dukungan penuh dari Presiden, terutama untuk tahap produksi. Kemandirian vaksin jadi kata kunci yang berulang kali disorot dalam pertemuan tersebut.

"Pak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Dan kita berharap dengan support dari Bapak Presiden tentang terkait dengan vaksin ini. Ini bisa kita percepat 3 tahun lebih cepat dari seharusnya, karena beliau akan memberikan dukungan penuh terhadap produksi vaksin ini, khususnya vaksin malaria," ujarnya.

Bukan Hanya untuk Indonesia

Arif menegaskan hasil riset ini diharapkan memberi manfaat lebih luas, tidak berhenti di dalam negeri. Indonesia berpeluang menjadi salah satu negara yang menyumbang vaksin malaria bagi dunia.

"Jadi kalau kita bisa produksi di Indonesia, ini bisa menjadi salah satu kontribusi Indonesia untuk dunia. Jadi Bapak Presiden tadi menekankan apa sumbangan kita untuk dunia juga, karena malaria tidak hanya di Indonesia, tapi vaksinnya di dunia tidak ada. Nah, oleh karena itu kita bisa memberikan kontribusi untuk kesejahteraan masyarakat di dunia," ujarnya.

Kenapa Malaria Masih Jadi Persoalan

Malaria ditularkan lewat gigitan nyamuk Anopheles yang terinfeksi parasit Plasmodium. Penyakit ini banyak ditemukan di wilayah tropis, termasuk sejumlah daerah endemis di Indonesia bagian timur.

Ketiadaan vaksin membuat pencegahan selama ini bertumpu pada pengendalian nyamuk, kelambu berinsektisida, dan pengobatan dini. Karena itu, percepatan riset vaksin dinilai jadi langkah strategis jangka panjang.

Yang Perlu Ibu Ketahui soal Pencegahan Malaria

Selama vaksin belum tersedia, perlindungan keluarga tetap bergantung pada langkah sederhana sehari-hari. Gunakan kelambu saat tidur, terutama di daerah endemis, dan pasang kasa nyamuk di ventilasi rumah.

Kenakan pakaian lengan panjang saat beraktivitas di luar pada sore hingga malam. Bersihkan genangan air di sekitar rumah karena tempat itu jadi lokasi nyamuk berkembang biak.

Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika anak demam tinggi disertai menggigil, terutama setelah bepergian ke daerah endemis malaria.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: health.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top