BANJAR — Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin menyatakan penambahan volume campuran dilakukan karena pembasahan sebelumnya belum mencapai kedalaman yang dibutuhkan. Percobaan dengan 800 liter dinilai kurang menembus lapisan gambut, sehingga titik panas berisiko bertahan di bawah permukaan.
"Hari ini kita kembali melakukan uji coba dengan campuran 1.000 liter. Kemarin kita mencoba 800 liter, tetapi kedalamannya masih kurang. Sekarang sudah diperdalam dan kita coba kembali. Kalau nanti masih kurang efektif, akan kita tambah lagi," ujar Muhidin di lokasi uji coba.
Penanganan karhutla di lahan gambut tidak bisa berhenti saat api di permukaan sudah tidak terlihat. Muhidin menyebut titik panas masih dapat bertahan di bawah lapisan gambut dan berpotensi memicu kebakaran kembali.
Pemantauan lapangan mencatat sejumlah titik api sudah tidak tampak. Meski begitu, titik panas masih ditemukan di beberapa lokasi, termasuk kawasan Jalan Kurnia, sehingga pendinginan dan pembasahan lahan terus dilakukan.
Pemprov Kalsel bersama instansi terkait berencana mengoptimalkan operasi helikopter water bombing dengan memanfaatkan sumber air dari Embung Syarkawi. Embung itu diharapkan mempercepat pengisian air bagi helikopter sekaligus menunjang pemadaman dari udara, terutama di kawasan yang sulit dijangkau lewat jalur darat.
Di jalur udara, operasi modifikasi cuaca menggunakan pesawat masih berlanjut untuk membantu pembentukan awan hujan di wilayah Kalimantan Selatan.
"Kita berharap mudah-mudahan hari ini atau malam nanti hujan bisa turun. Kita berdoa agar hujan segera turun di daerah kita, bahkan sebelum memasuki musim hujan," kata Muhidin.
Berdasarkan perkiraan yang disampaikan dalam keterangannya, musim hujan di Kalimantan Selatan diperkirakan mulai pada pertengahan November. Di sejumlah wilayah, kedatangan musim hujan berpotensi mundur hingga awal Desember.
Muhidin menambahkan, dukungan peralatan penanganan karhutla telah ditingkatkan melalui koordinasi dengan Kapolda Kalsel. Penambahan sarana itu diharapkan memperkuat efektivitas pemadaman dan mempercepat pendinginan lahan.
Pemerintah daerah bersama aparat dan instansi terkait akan terus memantau lokasi yang menunjukkan peningkatan suhu. Penanganan diarahkan tidak hanya pada kobaran api, tetapi juga pada titik panas yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
"Kami akan terus berupaya memadamkan api. Di mana pun ditemukan lokasi yang masih panas dan membutuhkan penanganan, kami akan berusaha bergerak ke sana. Kami berharap masyarakat memahami kondisi cuaca dan situasi karhutla yang sedang kita hadapi," pungkas Gubernur.
Pemprov Kalsel bersama Polda Kalsel, TNI, BPBD, dan instansi terkait akan terus berkoordinasi serta mengevaluasi berbagai metode penanganan karhutla untuk mengurangi risiko kebakaran dan dampak asap terhadap masyarakat.