KALIMANTAN SELATAN — Rupiah menutup perdagangan Senin (26/10/2026) di posisi Rp 18.124 per dolar AS, melemah sekitar 0,37% dan bertahan di atas level psikologis Rp 18.000. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai pelemahan mata uang Garuda itu tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi nasional. Sepanjang 2026, rupiah sudah terdepresiasi 7,52%, berbanding terbalik dengan penguatan won Korea Selatan 8,78% dan yuan 4,68%.
Volatilitas yang mendorong dolar AS menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS sudah berlangsung sejak pertengahan tahun lalu. Posisi penutupan Senin (26/10/2026) menegaskan rupiah masih menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terdalam di kawasan Asia.
Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, menyebut level di atas Rp 18.000 belum tepat jika dianggap sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.
"Sebagian pelemahan memang muncul akibat perubahan kondisi ekonomi, tetapi sebagian lainnya berasal dari premi risiko yang sudah melampaui tekanan fundamentalnya," kata Yusuf kepada Bloomberg Technoz, Senin (26/10/2026).
Peran faktor domestik terlihat cukup jelas dari pergerakan indeks dolar AS yang justru turun 0,19% seiring melemahnya imbal hasil obligasi Amerika Serikat dan harga minyak. Kondisi eksternal yang seharusnya meringankan tekanan rupiah ternyata tidak banyak membantu.
Rupiah tetap menjadi salah satu mata uang dengan tekanan terdalam di Asia meski sentimen global sedang tidak menekan dolar. Kesenjangan ini yang membuat premi risiko menjadi sorotan, bukan sekadar pergerakan fundamental.
Sepanjang 2026, rupiah sudah melemah 7,52%. Pada periode yang sama, won Korea Selatan justru menguat 8,78% dan yuan China menguat 4,68%, menurut data yang disampaikan CORE.
Selisih kinerja itu menunjukkan tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya sejalan dengan arah mata uang Asia lain. Bagi investor, kondisi ini memperbesar kebutuhan lindung nilai atas eksposur valuta asing.
Pelemahan rupiah di atas Rp 18.000 menambah beban importir yang harus membayar bahan baku dalam dolar. Emiten dengan utang valas juga menghadapi potensi kerugian selisih kurs pada laporan keuangan kuartal IV 2026.
Sebaliknya, eksportir berbasis komoditas dan perusahaan penerima pendapatan dolar memperoleh keuntungan daya saing harga. Bagi pemegang obligasi rupiah, imbal hasil yang lebih tinggi bisa menjadi kompensasi, tetapi risiko depresiasi lanjutan tetap perlu dihitung.
Pernyataan CORE memberi sinyal bahwa sebagian tekanan bersifat persepsi risiko, bukan murni fundamental. Jika premi risiko itu menyusut, ruang penguatan rupiah terbuka meski tanpa perubahan besar pada data ekonomi.